SOLOBALAPAN.COM – Upacara adat kenaikan takhta atau Tingalan Jumenengan Dalem ke-20 SISKS Pakoe Boewono XIII akan dihelat dengan sederhana, hari ini (6/2).
Selain tidak adanya kirab budaya, ternyata Keraton Kasunanan Surakarta juga melakukan pembatasan jumlah undangan.
Sehingga dalam hal ini kenaikan tahta akan dilakukan secara sederhana daripada peringatan di tahun sebelumnya.
Salah seorang kerabat keraton, KP Eddy Wirabhumi membenarkan.
Ini dilakukan karena pelaksanaan berdekatan dan kental dengan nuansa pemilu, sehingga undangan yang disebar pun akan sangat terbatas.
“Tamu undangan tidak banyak. Dari Gusti Moeng (GKR Wandansari) saja malah tidak mengeluarkan undangan, tapi kalau dari Sinuwun SISKS PB XIII Hangabehi kemarin dijelaskan hanya 200 undangan saja. Istilahnya sesederhana mungkin, namun akan tetap khidmat,” terangnya, kemarin (5/2).
Dengan jumlah tamu undangan yang cukup terbatas itu, suasana peringatan kenaikan takhta raja tidak akan seramai sebelum-sebelumnya.
Di mana acara kala itu dihadiri raja-raja Nusantara hingga pejabat pemerintahan. Baik dari tingkat daerah maupun dari pusat.
Sederhananya pelaksanaan upacara adat tahunan itu juga tergambar, lewat peniadaan prosesi kirab ageng di usai prosesi kenaikan takhta itu.
“Kalau kirab itu kan memang tidak setiap jumenengan harus kirab, tahun ini tidak ada. Pertibangannya jelang pelaksanaan pemilu, di mana semuanya juga punya kesibukan sendiri-sendiri. Makanya pelaksanaannya sederhana,” beber Eddy.
Sekadar informasi, prosesi adat kenaikan takhta itu akan dimulai pagi ini (6/2) pagi hingga siang hari.
Seluruh tamu undangan diharapkan maksimal pukul 09.30 sudah memasuki area, sehingga acara adat bisa dimulai pada pukul 10.00 dan rampung pada tengah hari.
“Persiapan sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari. Penari Bedoyo Ketawang juga sudah latihan full selama sepekan, semuanya sudah siap,” papar dia.
Sebelumnya, KP Dani Nur Adiningrat juga mengiyakan.
“Menimbang situasi dan kondisi jelang pemilu, kemungkinan kirab tidak digelar langsung seperti biasanya. Seandainya digelar kemungkinan tidak dalam waktu bersamaan,” terangnya.
Dalam hal ini situasi politik menjadi salah satu yang ditakutkan, karena kondisinya yang memanas bisa jadi sumber konflik antar pendukung yang tidak terkendali. (ves/nik)
Editor : Nindia Aprilia