SOLOBALAPAN.COM - Solo dan sekitarnya memang diketahui memang kental dengan beberapa spot yang dianggap sebagai petilasan.
Salah satunya adalah Sendang Dangkrong yang terletak tepat di sisi utara Pasar Nglano, Desa Pandeyan, Tasikmadu dan berjarak sekitar 30 menit saja dari Kota Solo.
Tempat tersebut adalah sendang petilasan Jogosuto dan Jogosuworo.
Salah satu tokoh masyarakat sekaligus budayawan Welda Ari Wijaya memberikan penjelasan mengenai sendang ini.
Menurutnya, di kompleks Sendang Dangkrong terdapat Tugu Pancasila dan beberapa patung atau arca.
“Ada beberapa pohon besar dan bangunan seperti pendapa, yang dijadikan sebagai lokasi untuk pertapaan," kata Welda seperti dikutip dari Radar Solo.
"Semoga lokasi ini nantinya bisa menjadi salah satu ruang budaya bagi masyarakat,” tuturnya kemarin (2/2).
Diklaim masih menyimpan kekuatan mistis, sebagai sarana menambah wawasan kebangsaan.
“Masih ada peninggalan zaman Mataram kuno," lanjutnya.
"Berupa ajaran dan tiga pusaka kuno yakni Tunggul Nagoro, Tunggul Pangaripo, dan Songsong Agung Nagoro,” imbuh Welda.
Ketiga tiga pusaka tersebut, lanjut Welda, merupakan senjata untuk memperkuat identitas bangsa dari serangan para penjajah.
Dulunya sempat digunakan pada zaman Mataram kuno hingga kerajaan Brawijaya.
Selain itu, keberadaan Sendang Dangkrong konon erat kaitannya dengan berdirinya Pabrik Gula (PG) Tasikmadu, yang lokasinya tak jauh dari sendang tersebut.
Menurut Welda, Sendang Dangkrong atau Petilasan Jogosuto dan Jogosuworo merupakan salah satu lokasi limbah spiritual dalam pembangunan PG Tasikmadu.
“Dibangun di masa pemerintahan Mangkunegara IV pada 1871," katanya.
"Setelah pembangunan pabrik gula di Kecamatan Colomadu."
"Limbah spiritual yang dimaksud adalah adalah tempat atau sarana membuang segala marabahaya selama pembangunan pabrik gula,” beber Welda.
Pernah ada cerita, jika air sendang kering maka akan muncul penampakan terowongan.
Selain itu, keberadaan sendang ini juga tak lepas dari mitos yang beredar terkait kisah kakak-beradik Eyang Sondong dan Eyang Koro.
Keduanya bertengkar hebat karena memperebut hati wanita yang sama.
Pertempuran hebat keduanya yang sama-sama sakti, akhirnya membentuk Sendang Dangkrong.
Welda berharap Sendang Dangkrong ke depan bisa dimanfaatkan masyarakat untuk menumbuhkan jiwa kebangsaan. Jiwa persatuan dan kesatuan bangsa.
“Dulu disini banyak orang mencari pesugihan dan penglarisan. Kami ingin tegaskan, Sendang Dangkrong bukan untuk itu.
"Melainkan tempat sakral untuk membangkitan spiritual kebangsaan,” tegas Welda. (rud/fer/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro