Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Dulu Ada di Sungai Bengawan Solo, Yoni Ini Jadi Awal Cerita Ritual Tayuban di Tambakboyo Sukoharjo pada Jumat Kliwon Bulan September

Iwan Kawul • Minggu, 28 Januari 2024 | 18:26 WIB
Perangkat Desa Tambakboyo di depan punden. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
Perangkat Desa Tambakboyo di depan punden. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

SOLOBALAPAN.COM - Diketahui, banyak ritual dengan cerita unik yang ada di wilayah Solo dan sekitarnya.

Salah satunya adalah ritual tayuban dengan iringan gamelan oleh masyarakat Desa Tambakboyo, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo.

Tradisi ini diketahui berlangsung pada malam Jumat Kliwon (penanggalan Jawa) pada bulan September.

Kiranya ada cerita unik yang menjadi awal mula tradisi tersebut.

Dilansir dari Radar Solo, tradisi ini berawal dari cerita pemindahan yoni yang awalnya diceritakan berada di Sungai Bengawan Solo, jauh sebelum era penjajahan Belanda.

Yoni sendiri merupakan sebuah objek yang biasanya berupa batu berlubang yang melambangkan kesuburan.

Kepala Desa (Kades) Tambakboyo Samsul Arifin menjelaskan, ada warga sekitar yang bermimpi. Dalam mimpinya, batu tersebut harus dipindahkan.

Warga lantas bergotong royong memindahkan batu tersebut dari Sungai Bengawan Solo.

Kendati demikian, batu yoni tersebut tidak beranjak dari tempatnya.

Tak lama, warga tersebut kembali mendapat wangsit dari mimpinya bahwa batu itu bisa dipindahkan.

Syaratnya diiringi tarian tayub dan ledek, dengan iringan tabuhan gamelan di malam Jumat Kliwon.

“Tepat pada malam Jumat Kliwon, warga kembali gotong royong mengangkat batu itu."

"Diiringi beberapa penari tayub, lengkap dengan iringan musik gamelan dan ledek,” beber Samsul.

Setelah alunan gamelan terdengar dan penari tayub beraksi, secara ajaib batu tersebut bisa diangkat oleh lima warga.

“Dari sinilah asal usul ritual tayuban tiap malam Jumat Kliwon pada September oleh warga,” imbuhnya.

Kini, tradisi tersebut tetap terjaga hingga sekarang.

Bahkan sebagaian warga mempercayai, tayuban akan membawa kelancaran dalam mengarungi kehidupan.

Batu yang dipindahkan dengan ritual tayuban itu sendiri kini tersimpan di bangunan berbentuk joglo nan estetik dengan arsitektur batu bata di halaman Balai Desa Tambakboyo.

Yoni ini diketahui sudah masuk daftar benda cagar budaya (BCB), sehingga sangat terjaga kelestariannya.

Batu yoni itu sendiri dikenal dengan nama Punden Kyai Lurah Guno Wijoyo.

Penamaan itu sendiri berasal dari mimpi seorang warga.

“Ada juga warga yang bermimpi, penunggu batu tersebut adalah Guno Wijoyo," ungkap Samsul.

"Inilah asal usul penamaan Kyai Guno Wijoyo pada batu tersebut,” ujarnya. (kwl/rei)

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#sukoharjo #yoni #tayuban #solo