Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Ternyata Ini Makna Tata Busana Pengantin Adat Solo pada Upacara Midodareni

Reinaldo Suryo Negoro • Rabu, 24 Januari 2024 | 21:36 WIB
Ilustrasi pernikahan. Bagi orang Solo, acara midodareni menjadi salah satu tahapan dalam pernikahan adat Jawa. (ISTOCKPHOTO.COM)
Ilustrasi pernikahan. Bagi orang Solo, acara midodareni menjadi salah satu tahapan dalam pernikahan adat Jawa. (ISTOCKPHOTO.COM)

SOLOBALAPAN.COM - Dalam sebuah pernikahan, baik pengantin laki-laki maupun perempuan dirias sedemikian rupanya seperti Raja dan Ratu.

Pengantin mengenakan busana dan riasan sesuai dengan adat dan aturan yang berlaku di daerah tersebut.

Pada pernikahan adat Solo, adat yang berlaku tidak hanya mengandung nilai estetika, namun juga mengandung makna serta fungsi dalam masyarakat.

Busana yang dikenakan pada pengantin laki-laki maupun perempuan memiliki nilai keindahan dan filosofi.

Pada pengantin laki-laki, busana yang dikenakan memiliki tiga jenis sesuai dengan tahapan upacara.

Salah satu dari ketiga jenis upacara tersebut yaitu upacara midodareni.

Upacara midodareni merupakan rangkaian acara yang dilakukan pada malam hari sebelum akad nikah.

Dilansir dari Jurnal Penelitian "Makna Filosofi dan Fungsi Tata Rias Pernikahan Jawa di Daerah Surakarta" karya Febi Nasikha Fitri, rupanya ada makna tersendiri dalam tata busana upacara midodareni.

Dalam acara midodareni, perlengkapan yang digunakan pengantin laki-laki adalah mat atau udeng, baju atela, stagen, sabuk timang, keris, sinjang atau kain, dan selop.

Mat atau udeng terbuat dari kain batik yang biasanya digunakan di bagian kepala.

Udeng memiliki makna yaitu supaya pengantin laki-laki mempunyai pemikiran yang fokus dan pendirian yang tetap.

Pada bagian badan, pengantin laki-laki menggunakan baju atela sebagai penutup.

Baju atela sendiri merupakan karakteristik dari wilayah Jawa Tengah.

Baju atela memiliki desain tanpa kerah, biasanya terdapat kancing di bagian samping kanan.

Kancing pada baju ini memiliki makna supaya pengantin laki-laki memperhitungkan tindakannya sehingga tidak merugikan orang lain.

Selanjutnya ada stagen pada busana pengantin laki-laki yang digunakan untuk mengikat kain dan menyelipkan keris.

Sementara itu, sabuk dan timang fungsinya adalah sebagai pengikat stagen.

Keris atau duwung yang diselipkan pada stagen berfungsi sebagai keindahan pusaka. Keris yang digunakan adalah warongko ladrang.

Makna dari keris sendiri adalah sebagai kekuatan jiwa.

Dalam upacara midadareni, pengantin laki-laki menggunakan keris polos atau tanpa perhiasan.

Selain sebagai kekuatan jiwa, keris yang polos juga melambangkan kepolosan hati dari sang pengantin.

Sinjang atau kain jarik yang digunakan pada upacara midadareni memiliki motif sidomukti.

Kain dengan motif sidomukti tersebut melambangkan suatu harapan supaya pengantin hidup dengan bahagia.

Sementara pada pengantin perempuan, busana yang dikenakan juga menyesuaikan dengan tahapan upacara yang sedang berlangsung.

Pada upacara midodareni, pengantin perempuan mengenakan pakaian kejawen atau warna sawitan.

Pakaian kejawen atau sawitan adalah busana pengantin perempuan dengan kain jarik dan stagen yang berwarna sama.

Pakaian kejawen memiliki makna bahwa kedua pasangan pengantin setia satu sama lain.

Mereka selalu bersama apapun yang terjadi dalam kehidupan setelah pernikahan.

Pakaian ini menjadi lambang kemanunggalan rasa dari kedua mempelai.

Pernikahan tersebut menjadi simbol bahwa mereka ditakdirkan bersama dan harus menjalankan kehidupan dengan ikhlas lahir batin.

Perlengkapan pertama yang digunakan yaitu kain jarik.

Kain jarik yang dikenakan berwarna hijau, kain ini berfungsi untuk menutupi bagian bawah busana pengantin putri.

Bahan dari kain jarik adalah kain tenun yang melambangkan sikap sopan santun, kain hijau ini memiliki makna kesederhanaan dan penghormatan terhadap tamu.

Perlengkapan kedua adalah stagen.

Stagen pada pengantin perempuan berfungsi sebagai pengikat kain jarik agar tidak terlepas.

Selain kain jarik dan stagen, perlengkapan lainnya yaitu kebaya lengan panjang.

Pengantin perempuan juga mengenakan kebaya lengan panjang.

Kebaya yang dikenakan terbuat dari kain lurik atau kain tenun yang berwarna hijau.

Model dari kebaya panjang tersebut menjadi ciri khas baju tradisional perempuan Jawa.

Nah, itulah informasi mengenai makna tata busana pengantin adat Solo pada upacara midodareni. (mg4/rei)

Photo
Photo
Photo
Photo
Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#midodareni #makna #busana #Adat #solo