Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Wajib Dipahami Orang Solo, Ini Makna Tradisi Mitoni Beserta Prosesi di Dalamnya

Reinaldo Suryo Negoro • Rabu, 24 Januari 2024 | 02:49 WIB
Tradisi mitoni yang menjadi salah satu tahapan yang dilakukan oleh orang Solo yang menggelar pernikahan dengan adat Jawa (SURAKARTA.GO.ID)
Tradisi mitoni yang menjadi salah satu tahapan yang dilakukan oleh orang Solo yang menggelar pernikahan dengan adat Jawa (SURAKARTA.GO.ID)

SOLOBALAPAN.COM - Kota Solo juga dikenal sebagai kota yang masih kental dengan tradisi adat Jawa.

Bagi masyarakat Solo mungkin sudah tak asing lagi dengan tradisi mitoni.

Tradisi ini masih dilestarikan dan dilakukan hingga saat ini.

Secara etimologi, mitoni berasal dari kata pitu yang berarti tujuh.

Umunmya, tradisi ini dilaksanakan saatusia kehamilan telah menginjak tujuh bulan.

Yang menjadi unik yaitu, biasanya tradisi ini dilakukan khusu pada anak pertama.

Dilansir dari laman Pemerintah Kota Solo, tradisi mitoni ini mempunyai tujuan untuk memohon keselamatan yang ditujukan kepada calon ibu dan bayinya.

Selain itu, tradisi ini juga wujud doa-doa agar proses bersalin berjalan dengan lancar, dan bayi yang dilahirkan menjadi pribadi yang luhur di masa depan.

Dalam mitoni, terdapat beberapa macam jenang yang dijadikan sebagai bahan pelengkap.

Di antaranya jenang abang, jenang putih, jenang kuninng, jenang ireng, jenang waras, dan jenang sengkolo.

Tak hanya itu, biasanya juga menggunakan sajian tumpeng, lauk pauk pelengkap, buah-buahan, kembang setaman, serta berbagai jenis dedaunan.

Prosesi mitoni biasanya dimulai dengan ritual siraman.

Tujuan dari ritual siraman itu adalah untuk mengeluarkan kotoran dari tubuh ibu hamil, yang juga dapat membersihkan hati dan jiwa.

Dalam bahasa Jawa, siraman berarti ngruwat sukerta atau membuang kesialan.

Air diambil dari tujuh sumur berbeda. Sebenarnya, tujuannya adalah untuk memberi tahu orang-orang agar lebih mencintai dan merawat Bumi, termasuk menjaga sumber mata air.

Setelah itu, ganti busana sebanyak 7 kali. Setuap ganti pakaian, tetua akan bertanya kepada tamu “wis pantes durung?” atau “sudah pantas belum?”.

Kemudian, tamu akan menjawab “durung” atau “belum” sampai pada kain yang terakhir atau ketujuh.

Selanjutnya, melepaskan dua buah kelapa muda gading.

Gambar wayang Kamajaya dan Kamaratih ditempelkan pada kelapa.

Keduanya mewakili gender: perempuan dan laki-laki.

Perumpamaan buah kelapa gading juga menunjukkan bahwa orang tua sudah siap menerima buah hati mereka apa pun jenis kelaminnya.

Selain itu, acara ini dilakukan untuk memastikan bahwa bayi akan terlahir dengan selamat dan tanpa masalah.

Untuk acara penutup, diadakan dodol atau jualan rujak.

Berbagai macam buah-buahan, seperti nanas, manga muda, belimbing, bengkuang, kedondong, jambu, yang dicampur dengan bumbu bercita rasa amas, amnis, pedas.

Dodol rujak ini dilakukan oleh calon ibu dengan membawa wadah guna menampug hasil jualan.

Uang yang digunakan berupa kreweng atau potongan tanah liat.

Dengan demikian, harus diingat bahwa makna dan filosofi dalam tradisi ini sangat baik, maka wajib untuk melestarikannya.

Supaya tradisi ini tetap ada dan bisa diturunkan ke generasi selanjutnya.

Pasalnya, merawat tradisi juga berarti ikut serta dalam menjaga kebudayaan. (mg8/rei)

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#tradisi #mitoni #solo