SOLOBALAPAN.COM - Istilah geguritan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Jawa, khususnya di Kota Solo.
Sebagai salah satu bentuk puisi Jawa modern, geguritan memiliki ciri khas yang membedakannya dari karya sastra bahasa Jawa lainnya, seperti tembang Jawa.
Dalam informasi dari laman resmi Pemerintah Kota Surakarta, Berbeda dengan tembang Jawa yang tunduk pada aturan-aturan tertentu.
Geguritan justru dikenal sebagai karya sastra yang bebas dan tidak terikat oleh aturan tertentu.
Tidak seperti tembang macapat atau kidung, geguritan tidak terikat oleh guru gatra, guru lagu, atau guru wilangan.
Ada pandangan lain yang menyatakan bahwa geguritan adalah susunan bahasa mirip dengan syair dalam bahasa Jawa.
Geguritan merupakan puisi Jawa modern yang menjadi wadah bagi penyair untuk menuangkan perasaan dan pikiran secara imajinatif.
Uniknya, geguritan tidak terikat oleh aturan, memberikan kebebasan ekspresi yang luas.
Puisi ini sering dijumpai di majalah dan surat kabar berbahasa Jawa, menjadi medium bagi penyair untuk berkreasi tanpa batasan baku.
Dilansir dari surakarta.go.id, dalam menyusun geguritan, penyair dapat memilih berbagai tema sesuai dengan inspirasinya.
Tema-tema seperti ketuhanan, kemanusiaan, patriotisme, cinta tanah air, cinta kasih, kerakyatan, demokrasi, keadilan sosial, pendidikan, dan tema umum lainnya dapat diangkat dalam geguritan.
Beberapa ciri khas geguritan melibatkan penggunaan bahasa yang tidak terikat pada padinan atau bahasa sehari-hari.
Tidak terdapat aturan khusus terkait jumlah larik, memberikan kebebasan dalam penyusunan akhirnya, dan jarang menggunakan tembung atau kata terikat.
Dilansir dari laman resmi Pemerintah Kota Surakarta, Sebagai contoh berikut adalah sebuah geguritan berjudul "Guru" karya Bayu Handoko dengan tema pendidikan:
Cahyaning ati
Polahmu digugu lan ditiru
Pahlawan ilang tanpa pamrih
Jasamu sak dawaning jaman
Mula...
Bektia marang guru
Kang dadi boring pendidikan
Kan mandhengani pembangunan moral
Editor : Nindia Aprilia