Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Orang Solo Harus Tau! Ternyata Batik Sidoluhur Memiliki Makna Keluhuran Bagi Pemakainya

Nindia Aprilia • Jumat, 19 Januari 2024 | 23:08 WIB
Batik Sidoluhur Jadi Salah Satu Warisan Budaya Jawa
Batik Sidoluhur Jadi Salah Satu Warisan Budaya Jawa

SOLOBALAPAN.COM - Batik Sidoluhur merupakan batik tradisional yang telah ada sebelum berdirinya Kesultanan Mataram.

Dilansir dari Javanologi Uns, Batik Sidoluhur diciptakan oleh Ki Ageng Henis, kakek dari Panembahan Senopati yang merupakan pendiri Kesultanan Mataram.

Konon, Ki Ageng Henis dipercaya merupakan seseorang yang memiliki kekuatan (kesaktian). Hingga menciptakan Batik Sidoluhur yang elegant.

Sebagai pencipta batik Sidoluhur, Ki Ageng Henis memiliki tujuan utama dalam membuatnya yaitu untuk dipakai oleh keturunannya.

Batik Sidoluhur tergolong dalam jenis batik keraton. Hal ini dikarenakan batik Sidoluhur berkembang di daerah Yogyakarta dan Surakarta yang merupakan wilayah keraton.

Batik ini memiliki makna keluhuran seperti namanya. Makna tersebut merujuk pada kebiasaan orang Jawa dalam menjalani kehidupannya.

Mereka selalu mencari keluhuran, baik materi maupun non materi.

Biasanya, keluhuran materi didapatkan melalui ketercukupan segala aspek ragawi seperti usaha dan kerja keras sesuai dengan jabatan, pangkat, derajat, maupun profesinya.

Sedangkan keluhuran non materi biasa ditunjukkan melalui budi, tutur, dan tindakan yang mulia.

Pemakaian batik Sidoluhur umumnya dikenakan oleh mempelai perempuan saat malam pernikahan.

Budaya Jawa mengatakan, ketika mengenakan batik Sidoluhur maka kelak kehidupan rumah tangga dari kedua mempelai pengantin akan mendapat kelancaran dan kemuliaan.

Selain digunakan pada acara pernikahan, batik ini juga biasa digunakan dalam acara mitoni. Upacara mitoni merupakan perayaan tujuh bulan kehamilan.

Biasanya, batik Sidoluhur yang digunakan berlatar warna putih. Berbeda dengan batik Sidoluhur pada umumnya, yaitu berlatar hitam.

Batik ini dianggap mampu membawa kebahagiaan bagi pemakainya.

Selain itu, masyarakat juga percaya batik ini dapat membawa sifat budi pekerti luhur dan sopan santun yang diturunkan kepada anaknya kelak.

Lebih lanjut dari itu, batik Sidoluhur juga sering digunakan untuk menggendong bayi.

Filosofi kebahagiaan yang ada dalam batik ini diharapkan mampu dirasakan oleh sang bayi.

Mereka juga percaya, bayi akan merasa tenang dan senang ketika digendong menggunakan batik ini. (mg4/nda)

SIMBOLIS: Pj Bupati Tulungagung Heru Suseno menyerahkan potongan tumpeng kepada Ketua Baznas, Samsul Umam.
SIMBOLIS: Pj Bupati Tulungagung Heru Suseno menyerahkan potongan tumpeng kepada Ketua Baznas, Samsul Umam.
Editor : Nindia Aprilia
#tradisional #mataram #batik sidoluhur #Keraton #solo