Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Pernah Dihadirkan di Acara Internasional, Tari Bedhaya La-la Tak Lepas dari Ide Cemerlang Go Tik Swan

Reinaldo Suryo Negoro • Rabu, 17 Januari 2024 | 01:56 WIB
Tari Bedhaya La-la dipentaskan di Pendapa Sasanamulya Keraton Surakarta (Dokumentasi PKJT/ASKI 1985 dalam buku Jawa Sejati karya Rustopo)
Tari Bedhaya La-la dipentaskan di Pendapa Sasanamulya Keraton Surakarta (Dokumentasi PKJT/ASKI 1985 dalam buku Jawa Sejati karya Rustopo)

SOLOBALAPAN.COM - Tari Bedhaya La-la atau Ela-ela merupakan tarian yang diciptakan oleh Go Tik Swan selain Bedhaya Tolu dan Bedhaya Temanten.

Dalam buku “Jawa Sejati” karya Rustopo, salah satu syair pada Serat Pasindhen Badhaya yang berbunyi “Pawaka Ro Wiku Raja” menunjukkan tarian ini ditampilkan pada 1796 atau pada zaman Pakubuwana IV.

Keseluruhan dari isi syair pada Serat Pasindhen Badhaya menceritakan tentang Bima yang berguru kepada Drona dengan tujuan menemukan hakikat kehidupan yang sempurna. Isi syair tersebut dapat dilihat dibawah ini:

Ngela-ela pamengkuning reh sapraja
Risang kala Pawaka Ro Wiku Raja
Risang Bima kalanira puruhita
Mring Sang Druna minta sampurneng dumadya…

 

Kendati demikian, pada abad ke-20, tari Bedhaya La-la sudah tidak dikenali lagi koreografinya.

R.Ay. Laksminto Rukmi, salah seorang penari Bedhaya sekaligus selir Pakubuwana X dan juga penari Bedhaya lainnya yaitu Ibu Darsosaputra belum pernah sekalipun menarikan tari Bedhaya La-la ini.

Tarian sejatinya ini pernah ditampilkan pada 1974 atau lebih tepatnya pada kongres Pacific Area Travel Association (PATA).

Para peserta dihadirkan di Kota Solo untuk berwisata ke Candi Sukuh, Keraton Kasunanan, Pura Mangkunegaran, dan besalen gamelan Resowiguno di Wirun Bekonang.

Ketika berada di Candi Sukuh, Go Tik Swan mempunyai pendapat untuk menyajikan tari Bedhaya yang bertema Bima di halaman Candi.

Pendapat tersebut dikarenakan menurutnya Candi Sukuh terdapat banyak patung-patung Bima.

Saat itu, Go Tik Swan ingat akan syair yang terkandung dalam Serat Pasindhen Badhaya yang mengisahkan tentang Bima, yaitu Bedhaya La-la.

Pendapatnya kemudian disampaikan kepada Gendon Humardani yang berakhir diwujudkanlah tari Bedhaya La-la yang ditampilkan di Candi Sukuh.

Gendon mewujudkan koreografi dari tari Bedhaya La-la bersama A. Tasman dan Ibu Darsosaputra.

Sedangkan, busana yang dikenakan untuk 9 penari diciptakan oleh Go Tik Swan.

Busana 9 penari tersebut bernama dodot ageng atau gula-klapa dengan warna merah dan putih yang melambangkan kesuburan.

Karawitan Matropangrawit diserahi dalam tarian ini untuk menyusun gendhing berdasarkan syair yang tersurat dalam Serat Pasindhen Badhaya.

Sayangnya, rencana untuk menggelar tari Bedhaya La-la di Candi Sukuh gagal dikarenakan hujan yang turun secara terus menerus.

Sehingga pergelaran ini kemudian diadakan di Sasanamulya tepatnya di kampus Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) yang saat ini telah berubah nama menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. (mg4/rei)

PEMILIK: Shiv Kumar Dave, Owner dari Ganesha Ek Sanskriti (kanan) (15/1/2024). (Made Sukamara/Radar Bali)
PEMILIK: Shiv Kumar Dave, Owner dari Ganesha Ek Sanskriti (kanan) (15/1/2024). (Made Sukamara/Radar Bali)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#Go Tik Swan #Tari Bedhaya La #Candi Sukuh #solo