SOLOBALAPAN.COM - Sanggul merupakan tata rias yang terdapat pada pengantin perempuan. Pada masa Hamengkubuwono IX, sanggul yang biasa digunakan bernama sanggul bokor mengkurep.
Dilansir dari jurnal penelitian "Arti Simbolis Paes Ageng Masa Hamengkubuwono IX Tahun 1940-1988" karya Sri Rahayu, sanggul bokor mengkurep memiliki simbol peralihan masa remaja ke dewasa pada perempuan.
Selain itu, sanggul ini juga berarti pengantin perempuan telah memiliki dasar (golong gilig) menuju ke arah kesempurnaan.
Dalam pewayangan, makna tersebut digambarkan seperti "Brantasena meguru marang dewa ruci" maksudnya ilmu yang telah dicapai menjadi sifat bulat manusia seutuhnya kemudian disimpan baik-baik selama hidup. Penyimpanan tersebut digambarkan dalam bokor emas atau kencana.
Sanggul bokor mengkurep memiliki perpaduan antara bunga melati dan daun pandan, kedunya menimbulkan kesan religius.
Daun pandan berfungsi sebagai pengisi gelung sedangkan bunga melati sebagai penutupnya. Lebih lanjut dari itu, Gajah ngoling sebagai hiasan sanggul juga terdiri dari keduanya.
Selain daun pandan dan bunga melati, sanggul bokor mengkurep juga dilengkapi oleh beberapa pelengkap lain yang memiliki makna simbolis, di antaranya:
1. Teplok atau Rajut Melati
Teplok digunakan untuk penutup gelung bokor mengkurep yang terdiri dari kuntum bunga melati yang dirajut menjadi satu.
Dalam keraton, teplok memiliki makna supaya ilmu yang dimiliki tidak pudar dan dapat dibawa sampai akhir hayat sehingga dapat meninggalkan nama baik.
Sedangkan dalam masyarakat umum, teplok hanya disimbolkan sebagai untaian bunga melati yang digunakan untuk mempercantik sanggul pengantin.
2. Gajah Ngoling
Gajah ngoling memiliki bentuk menyerupai belalai gajah. Dalam keraton, ini melambangkan keagungan dan penghormatan.
Sedangkan dalam masyarakat umum, gajah ngoling menjadi wujud kesakralan bagi pemakainya dalam menjalani hidup.
3. Ceplok Jebehan
Baca Juga: Mengenal Klenengan, Tradisi Yang Berawal Dari Keraton Hingga Penjuru Kota Solo
Ceplok jebehan memiliki arti berkembang. Dalam keraton, ceplok jebehan menjadi lambang perubahan status dari anak-anak ke dewasa.
Sedangkan dalam masyarakat umum, ceplok jebehan hanya menjadi simbol keindahan bagi pemakainya.
4. Jebehan Sritaman
Jebehan Sritaman berupa bunga korsase sebanyak tiga warna. Dalam keraton, bunga tiga warna tersebut melambangkan Trimurti (Syiwa, Brahma, dan Wisnu).
Sedangkan dalam masyarakat umum, jebehan sritaman juga menjadi simbol keindahan seperti ceplok jebehan.
5. Sumping
Pada pengantin perempuan, sumping yang dikenakan terbuat dari daun pepaya muda yang dihiasi pidih. Dalam keraton, sumping menjadi simbol dari saringan atau filter.
Maksud dari simbol saringan tersebut adalah supaya suara-suara yang tidak menyenangkan dapat disaring dengan baik. Selain itu, makna simbol ini juga berlaku pada masyarakat umum.
6. Centhung
Centhung merupakan sepasang perhiasan yang dipasang di antara penitis dan pengapit. Dalam keraton, centhung melambangkan kesempurnaan manusia untuk menyatu dengan Tuhan.
Lebih lanjut dari itu, centhung juga bermakna bahwa manusia dapat menjadi insan kamil atau manunggaling kawula gusti dengan cara menunduk, bersujud, serta mengadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tidak jauh berbeda seperti di dalam keraton, centhung juga melambangkan keagungan Tuhan dalam masyarakat umum. (mg4/nda)
Editor : Nindia Aprilia