SOLOBALAPAN.COM - Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta telah berhasil menggelar pertunjukan seni resital karawitan periode II.
Dilansir dari Radar Solo, Siswati selaku Sekretaris Jurusan Seni Karawitan, selama dua hari pertunjukan, tidak ditemukan kendala berarti.
“Karena kami sudah mengantisipasi dari awal," katanya.
Acara pun berjalan sesuai rundown dan selesai tepat waktu,” ujar Siswati.
Siswati menambahkan, pertunjukan kali ini berakhir tidak selarut pertunjukan tahun-tahun sebelumnya, sehingga tidak terlalu menguras energi dan waktu.
Menurutnya, hal ini tidak terlepas dari persiapan secara matang.
Tidak dalam waktu satu-dua hari, tetapi melalui proses panjang.
“Gedung karawitan tidak pernah sepi karena para penyaji latihan," lanjut Siswati.
"Bahkan beberapa kelompok penyaji sampai latihan di pendapa."
"Sehingga, setiap hari ada suara karawitan,” bebernya.
Siswati mengapresiasi kerja keras mahasiswa dan dosen dalam pertunjukan yang digelar selama dua hari di Teater Besar ISI Solo ini.
“Baik mahasiswa penyaji, tim produksi, maupun dosen telah melakukan yang terbaik,” katanya.
“Ini upaya dari kami untuk tetap mengenalkan (karawitan)."
"Toh sebenarnya (pertunjukan) ini adalah luaran dari dua mata kuliah, yaitu Manajemen Seni Pertunjukan dan Resital,” imbuh Siswati.
Dia berharap, melalui pertunjukan ini, seni karawitan mendapatkan apresiasi yang lebih besar.
Ditambahkan Kristantyo Dwi Prasetyo selaku mahasiswa penyaji, persiapan tidak hanya dilakukan dengan latihan menabuh gamelan dan menembangkan gending.
Doa bersama yang disebut Muryo Raras sebagai aspek spiritual juga tak ketinggalan dilakukan dalam persiapan agar pertunjukan berjalan lancar
“Jadi Muryo Raras itu adalah sebuah adat istiadat yang ada di Solo, terutama di keraton, yaitu berdoa dengan sarana gamelan,” katanya.
“Tetapi yang ditabuh tidak semua gamelan, hanya kendhang, rebab, gender, gong, kenong, suling, dan gambang,” terang pemusik gamelan kendhang tersebut.
Kebanggaan pun juga datang dari Yani, yang merupakan anggota keluarga penyaji, karena adiknya sukses menyajikan karawitan. (zia/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro