Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Menilik 6 Rangkaian Acara dalam Tedhak Sinten, Ternyata Mengandung Nilai Sosial Didalamnya

Nindia Aprilia • Sabtu, 13 Januari 2024 | 21:46 WIB
Prosesi Sawur Recehan dalam Prosesi Thedak Sinten Tradisi Jawa
Prosesi Sawur Recehan dalam Prosesi Thedak Sinten Tradisi Jawa

SOLOBALAPAN.COM - Keanekaragaman tradisi yang ada di Indonesia terus berkembang pada masyarakat menunjukkan bahwa Indonesia ini negara yang kaya akan tradisi salah satunya Thedak Sinten.

Thedak Sinten ternyata menganduk banyak nilai sosial budaya yang ada dalam setiap rangkaian acaranya.

Dilansir dari Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Budaya, Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungangung.

Tradisi tedhak siten merupakan salah satu tradisi khas masyrakat Jawa yang menjadi rangkaian tradisi sejak lahirnya seorang bayi.

Tradisi ini sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran, keselamatan, serta tumbuh kembang bayi yang diwujudkan dalam tradisi ini.

Tradisi ini biasanya dilakukan pada bayi yang berusia 7 bulan. Yang mana bayi tersebut sudah bisa duduk dengan tegak.

Tradisi ini ada beberapa tahapan saat melakukan ritual tedhak siten ini.

Pada setiap prosesnya mempunyai makna nilai sosial yang bisa diterapkan di masyarakat. Yuk simak beberapa prosesi dalam tedhak siten.

1. Dititah (menginnjak 7 warna)

Dalam tradisi ini bayi dipandu oleh orang dewasa untuk berjalan diatas jadah atau makanan yang terbuat dari beras ketan yang diberi warna tertentu.

Prosesi ini melambangkan tahap perkembangan fisik dan psikologis pada bayi yang telah mencapai usia 7 bulan. Yang mana anak sudah bisa duduk dan berjalan dengan bantuan orang dewasa.

Selain itu, prosesi ini juga melambangkan tahap-tahap perkembangan spiritual dan intelektual yang harus dilaui oleh anak supaya menjadi manusia yang baik dan berguna bagi masyarakat.

7 warna yang digunakan biasanya adalah merah, putih, kuning, hijau, hitam, biru, dan ungu.

Warna tersebut melambangkan makna keberanian, kesucian, kebahagiaan, ketenangan, kesedihan, ketulusan dan kekuatan.

2. Naik tebu wulung

Pada prosesi ini, bayi akan menaiki tangga yang berjumlah tujuh tangga tebu dengan dibantu oleh kedua orang tuanya.

Prosesi ini menggambarkan bahwa bayi akan menghadapi perjalanan hidupnya hari demi hari sampai puncaknya.

Dalam prosesi ini bayi didampingi oleh kedua orang tuanya. Hal ini bermakna bahwa adanya dukungan keluarga bagi anak dalam menjalani kehidupan sehari-harinya.

3. Masuk ke kurungan ayam

Baca Juga: Lagi Wisata ke Solo? Jangan Lupa Untuk Saksikan Pertunjukan Ketoprak di Sriwedari

Tahap selanjutnya yaitu masuk ke kurungan ayam. Pada prosesi ini memiliki makna budaya bahwa kurungan ayam merupakan penggambaran dari kehidupan yang nyata, kehidupan yang sebenarnya akan dijalani anak tersebut.

Sedangkan, secara nilai sosial, menggambarkan sikap keyakinan diri orang tua terhadap sesuatu hal yang dipilih anaknya, karena didalam kurungan seoraang anak disuruh memiih benda kesukaannya.

Hal tersebut mempunyai makna baha orang tua memberi kepercayaan kepada anak untuk memilih tentang karir atau hal yang digemaarinya ketika menjalani kehidupan kelak.

4. Memilih benda kesayangan

Tahap ini, orang tua harus mengucapkan “sak niki maos dungo kagem Putranepun sepados Putranipun dados Tiang Engkang Sae Kagem Bongso Ugi Nigari Ugi Agami”.

Dari sisi psikologis, tahapan ini berkaitan erat dengan aspek kinerja masa lalu Bandura dalam teori self-efficiacy, yaitu peningkatan kepercayaan diri termasuk yang baru diperoleh sebagai hasil dari kinerja ssebelumnya maupun akumulasi pengalaman.

Disini peran induk ditampilkan guna memberikan objek dengan latar belakang yang disukai. Yang berarti ada Riwayat terkait keberhasilan jenis pekerjaan yang pernah dilakukan oleh orang tua di masa lalu, dan juga cita-cita yang belum tercapai.

5. Sawur recehan

Pada tahap berikutnya yaitu sawur recehan. Nilai sosial yang terkandung dalam tahap ini yaitu uang koin receh yang disebarkan memiliki makna harapan orang tua agar  anak mereka kelak menjadi orang yang dermawan atau suka bersedekah.

Semnetara beras kuning yang dicampurkan dengan uang koin yang disebar berarti bahwa orang tua berharap anak merka menjadi orang yang selalu berkecukupan Makmur dan rajin daalam bekerja.

6. Mandi air kembang dan memakai pakaian baru

Baca Juga: Pasar Nusukan, Berawal dari Barter Sederhana Hingga Menjadi Warisan Kultural Kota Solo

Pada tahap ini memiliki harapan dalam kehidupannya nanti, anak tersebut akan membawa namanya harum.

Kemudian anak memakai baju yang layak atau baju baru. Hal ini supaya anak terebut bisa mengharumkan nama baik keluarganya serta kehidupan yang baik.

Selain itu, supaya harga diri atau perasaan anak meningkat,memberikan kepercayaan kepada orang tua bahwa mereka akan menyukai bau harum anak tersebut.

Itu merupakan informasi terkait makna nilai sosial yang ada pada rangkaian acara tedhak siten di Jawa. (mg8/nda)

Editor : Nindia Aprilia
#sosial budaya #tradisi #thedak sinten