Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Mengenal Tari Dirodo Meto, Tarian yang Erat Kaitannya dengan Pangeran Sambernyawa

Reinaldo Suryo Negoro • Sabtu, 13 Januari 2024 | 01:05 WIB
Tari Dirodo Meto yang disebut-sebut erat berkaitan dengan pendiri Keraton Mangkunegaran atau Pangeran Sambernyawa (FACEBOOK/SOLOSCOPE)
Tari Dirodo Meto yang disebut-sebut erat berkaitan dengan pendiri Keraton Mangkunegaran atau Pangeran Sambernyawa (FACEBOOK/SOLOSCOPE)

SOLOBALAPAN.COM - Tari Dirodo Meto merupakan tarian yang dipergelarkan untuk memperingati 250 tahun kelahiran Raden Mas Said atau Pangeran Sumbernyawa.

Pangeran Sambernyawa sendiri adalah Mangkunegara I, sosok pendiri Mangkunegaran.

Dalam buku “Dirodo Meto: Menggali Kembali Identitas Mangkunegaran” , Dirodo Meto diciptakan oleh Pangeran Sumbernyawa.

Selain sebagai peringatan 250 tahun lahirnya Pangeran Sambernyawa, tari Dirodo Meto juga diciptakan untuk mengenang pertempurannya.

Pertempuran yang dimaksud adalah yang berlangsung di Rembang pada 1756.

Tarian ini juga menjadi identitas penting bagi Pura Mangkunegaran.

Tari Dirodo Meto menjadi harga diri bagi Raden Mas Said yang pada saat pertempuran di Rembang tersebut, ia menunjukkan jiwa nasionalismenya dibanding kedua keraton lain.

Dari sinilah, Raden Mas Said mendapat julukan Pangeran Sumbernyawa.

Tarian ini kemudian direkonstruksi oleh Pura Mangkunegaran.

Tarian Dirodo Meto menampilkan tujuh prajurit laki-laki yang membawa trisula dan busur.

Prajurit tersebut mengenakan blangkon, selempang di bagian dada, kalung, dan pelat bahu.

Pada penutup tubuh, dikenakan kain dodot dengan alas berwarna hitam, kain ini melambangkan tolak bala.

Kemudian, pada kain hitam tersebut terdapat motif penyu, burung, dan pepohonan yang dikemas apik dengan warna keemasan.

Pola koreografi yang ditampilkan tujuh prajurit tersebut sering berubah.

Mulanya, tiga prajurit dengan membawa trisula berada di tengah.

Sementara itu, di samping kiri dan kanan terdapat para prajurit dengan membawa gandewa.

Kemudian, ketujuh prajurit tersebut bergerak melingkar hingga terbentuklah dua garis sejajar.

Setelahnya, busur yang digunakan dengan tombak panah diarahkan ke depan seolah siap untuk ditarik.

Konon, tari Dirodo Meto ini tidak lagi dipergelarkan selama 100 tahun.

Awalnya, tarian ini pernah ada di lingkungan Pura Mangkunegaran pada 200 tahun yang lalu.

Saat itu, tak seorang pun tahu seperti apa bentuk tarian ciptaan Pangeran Sumbernyawa ini.

Banyak yang berspekulasi bahwa tarian ini mungkin lebih mistis atau lebih gagah.

Pasalnya, ada bunyi tembang yang menggambarkan bagaimana Sang Pangeran mengamuk ke segala arah:

Njeng Pangeran Dipati Mangkunagara
Nindhihi ing ajurit
Mangamuk anyakra
Gandewanya lir kilat (mg4/rei)

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#Pangeran Sambernyawa #tari dirodo meto #mangkunegaran #mangkunegara