Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Mengenal Klenengan, Tradisi Yang Berawal Dari Keraton Hingga Penjuru Kota Solo

Nindia Aprilia • Jumat, 12 Januari 2024 | 22:38 WIB
Pementasan Gamelan Jadi salah Satu Pelestarian Budaya Jawa
Pementasan Gamelan Jadi salah Satu Pelestarian Budaya Jawa

SOLOBALAPAN.COM - Tradisi klenengan atau pentas gamelan pertama kali ditampilkan pada awal abad ke-20. Tradisi ini rutin diselenggarakan di dalam tembok keraton.

Dalam buku “Menjadi Jawa” karya Rustopo dituliskan, tradisi ini juga diadakan di luar keraton yaitu di rumah-rumah para bangsawan dan golongan menengah.

Awalnya, tradisi klenengan hanya berkembang di lokasi-lokasi tertentu di dalam Kota Solo.

Saat itu, klenengan dilakukan secara terbatas oleh para abdi dalem atau pengrawit terkemuka. Akan tetapi, perlahan tradisi ini berkembang baik dalam lokasi maupun pemainnya.

Di samping dengan munculnya para pengrawit muda yang dibentuk melalui magang ataupun kursus, lokasi-lokasi klenengan semakin tumbuh di beberapa penjuru, tidak lagi secara terbatas di dalam Kota Surakarta.

Daerah di luar Kota Surakarta seperti Boyolali, Delanggu, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, daerah utara hingga pesisir utara, dan daerah bagian timur seperti Madiun, Kediri, dan Malang.

Klenengan semakin berkembang sejak 1960-an dan puncaknya pada 1970-an.

Hal ini ditandai dengan semakin bertambahnya perkumpulan karawitan maka semakin banyaknya acara yang dimeriahkan oleh klenengan.

Namun, pada 1980-1990 kegiatan karawitan di Kota Surakarta semakin menurun sehingga hal ini juga berdampak pada tradisi klenengan yang makin jarang di acara-acara hajatan.

Akan tetapi, meskipun telah jarang digunakan klenengan memiliki beberapa tradisi yang penting dilakukan.

Beberapa klenengan tersebut yaitu klenengan pantisaren yang dilaksanakan di kediaman Sasradiningrat IV (Patih Kasunanan), klenengan sarwakan di kediaman Sarwaka Mangunkusuma (Patih Mangkunegaran), dan klenengan muryoraras di kediaman G.P.H. Kusumayuda (putra Pakubuwana X).

Selain itu, juga terdapat klenengan samakan yang diadakan di rumah pedagang kulit Martodikrama, klenengan kong tong hoo di gedung Kong Tong yang disponsori oleh orang-orang Tionghoa, klenengan di rumah babah Kong Wei di warung pelem, serta klenengan oleh perkumpulan karawitan Ngesthi Raras dan Papaka (paguyuban pramuda Kemlayan) di kampung Kemlayan.

Klenengan-klenengan tersebut memiliki tujuan yang beragam, mulai dari yang bersifat kreatif seperti mengembangkan garap karawitannya sampai dengan yang bersifat hiburan atau bahkan hanya sekedar untuk mengiringi orang menghisap candu.

Hingga kini, tradisi klenengan banyak ditemui di beberapa lembaga pendidikan. Tradisi ini masih dilestarikan oleh masyarakat mulai dari anak-anak hingga orang dewasa di berbagai daerah. (mg4/nda)

Editor : Nindia Aprilia
#tradisi #Keraton #Klenengan #solo