SOLOBALAPAN.COM - Tari Serimpi Sangupati merupakan salah satu tarian dari istana/keraton dengan pola gerak yang halus, tenang, semeleh, menep, hening, wingit, regu maupun kelompok.
Tarian ini awalnya ada pada masa kerajaan Mataram saat Sultan Agung bertahta pada tahun 1613 hinngga 1646. Tarian ini termasuk karya seni tertua di Jawa dan dianggap memiliki kesakralan serta kesucian karena hanya digelar di Kawasan Keraton sebagai bentuk dari ritual.
Dilansir dari laman Warisan Budaya Kemdikbud, Srimpi berasal dari kata Sri, yang berarti raja, dan Impi, yang berarti mimpi atau angan-angan.
Oleh karena itu, Srimpi merupakan angan-angan atau mimpi seorang raja yang ingin terwujud.
Dalam Tari Srimpi, biasanya tidak ada cerita, tema, atau penokohan yang jelas. Meskipun demikian, itu lebih menunjukkan kekuatan bentuk gerak, pola lantai, rias, kostum, musikalitas dan perawakan tubuh yang sama.
Srimpi Sangupati merupakan salah satu karya Paku Buwana IV yang memerintah Keraton Kasunanan Surakarta pada tahun 1788-1820. Awalnya, diberi nama Srimpi Sang Apati, dikarenakan sebutan bagi calon pengganti raja yang memiliki arti penghormatan terhadap raja.
Tari Serimpi Sangupati memiliki makna mendalam tentang nilai-nilai luhur supaya manusia bisa melawan dan mengendalikan hawa nafsunya sendiri.
Pesan dari Gerakan tari serimpi juga mengajarkan agar segala tingkah laku manusia mengandung jalan kebaikan dan juga kesejahteraan.
Kesenian tradisi ini lahir dari kehidupan keraton yang harus dijaga dan dilestarikan supaya keberadaannya tidak punah dengan seiring berkembangnya zaman.
Tarian ini meiliki ciri khas tersendiri, yang pertama tarian ini dilakukan oleh empat orang penari dan ditampilkan dengan Gerakan yang gemulai juga anggun. Gerakan tersebut memiliki arti kesopanan, budi pekerti, dan juga lemah lembut yang menjadi karakter Wanita Jawa.
Keunikan berikutnya yaitu memiliki kedudukan istimewa di Keraton. Dikarenakan pada zaman dulu hingga saat ini, tarian ini memiliki posisi istimewa di kalangan Keraton.
Kemudian tarian ini juga terbilang sakral karenakan mempunyai tingkat kesucian yang tinggi. Dengan itu, tarian ini menajdi pusaka yang melambangkan kekuasaan raja.
Tarian ini hanya ditampilkan oleh orang terpilih saja. Karena masih berkaiitan dengan kesakralan tari serimpi, maka tari ini tak boleh dimainkan oleh orang sembarangan.
Tari diungkapkan sebagai tuntunan, bukan sekadar hiburan. Seni bukanlah sesuatu yang harus dinikmati melainkan alat yang berguna untuk mendidik masyarakat.
Fungsi ini seolah-olah memiliki konsekuensi bagi mereka yang membawakan. Dengan menerapkan konsep wiraga, wirama, dan wirasa melalui tahap eksplorasi. (mg8/nda)
Editor : Nindia Aprilia