SOLOBALAPAN.COM - Surjan merupakan salah satu baju adat yang berasal dari keraton Yogyakarta. Surjan biasanya dikenakan oleh kaum laki-laki.
Berdasarkan jurnal penelitian berjudul "Perancangan Desain Komunikasi Visual Filosofi Surjan Jogja Menggunakan Metode Design Thinking" karya Wuri Septiningsih dituliskan bahwa Surjan merupakan baju adat dari Keraton Mataram yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga berdasarkan ayat suci Al-Qur'an.
Surjan dijadikan model pakaian rohani atau sering disebut dengan pakaian Takwa oleh Sunan Kalijaga. Hal ini bertujuan agar siapapun yang memakainya selalu ingat kepada Allah SWT.
Pakaian Takwa atau Surjan kemudian dikenakan oleh para Raja Mataram hingga kini.
Surjan atau pakaian Takwa memiliki bentuk lengan yang panjang dengan ujung bajunya lebih sempit serta runcing.
Pada bagian leher terdapat tiga pasang kancing dengan jumlah keseluruhannya enam buah.
Sedangkan pada bagian dada sebelah kanan dan kiri terdapat masing-masing dua kancing serta tiga buah kancing yang tertutup. Beberapa kancing ini dinamakan belah banten.
Kemudian, pada modelnya bentuk Surjan lebih panjang di bagian depan daripada bagian belakang.
Awalnya, Surjan hanya memiliki satu motif saja yaitu lurik. Surjan lurik kemudian menjadi yang pertama kali dibuat oleh Sunan Kalijaga sebagai pakaian Takwa. Surjan jenis ini memiliki motif lurik atau garis-garis.
Surjan lurik menjadi jenis Surjan yang banyak dikenal oleh masyarakat. Padahal selain Surjan lurik, busana Surjan memiliki jenis lain yaitu Surjan ontrokusuma.
Surjan ontrokusuma memiliki motif bunga (kusuma), biasanya kain yang digunakan terbuat dari sutra. Surjan jenis ini diperuntukkan bagi para bangsawan.
Surjan sering digunakan dalam upacara pernikahan atau manten, ngintun, tuguran, dan menjadi pakaian keseharian abdi dalem.
Untuk diketahui, di dalam keraton Surjan hanya dikenakan oleh Sri Sultan dan Pangeran Putra Dalem.
Nama "Surjan" berasal dari kata "siro" dan "jan" yang memiliki arti pelita atau yang memberi terang.
Pemberian istilah pakaian Takwa pada busana Surjan juga mengandung filosofi yang cukup mendalam bagi masyarakat Jawa.
Hal tersebut merujuk pada tiga pasang kancing yang berjumlah enam pada bagian leher, enam buah kancing tersebut menggambarkan rukun Iman.
Selain itu, dua buah kancing di bagian dada sebelah kanan dan kiri menjadi simbol dua kalimat Syahadat. Sedangkan tiga buah kancing yang tertutup menggambarkan tiga macam nafsu manusia yang harus diredam.
Lebih lanjut dari itu, pada bagian lengan kiri dan kanannya terdapat lima buah kancing yang menjadi simbol rukun Islam serta lima priyagung dalam Islam.
Awalnya, pada zaman dahulu Surjan atau pakaian Takwa menjadi busana yang dikenakan orang-orang dengan kelengkapan berupa iket, jarik, dan selop.
Namun, seiring dengan perkembangan zaman Surjan kemudian dikenakan tanpa kelengkapan adat lainnya. Sekarang ini, banyak orang yang mengenakan Surjan dipadukan dengan celana levis, hal ini menjadi salah satu cara supaya Surjan tetap eksis. (mg4/nda)
Editor : Nindia Aprilia