SOLOBALAPAN.COM - Garebeg Mulud atau Sekaten merupakan upacara keraton yang masih dijaga dengan penuh kekayaan tradisi.
Berdasarkan sumber Serat dan Babad dalam buku “Jawa Sejati”, Sekaten diadakan setiap 8 tahun sekali atau tiap tahun Dal pada hari Senin Pon tanggal 12 Robiulawal tahun Dal, bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad.
Pada masa pemerintahan Sultan Agung di Mataram, sekatenan dilangsungkan setiap tahun selama seminggu, mulai dari tanggal 5 hingga 12 Robiulawal (Mulud).
Dilansir dari buku “Jawa Sejati”, Gamelan sekaten memainkan berbagai gending selama tujuh hari tujuh malam, dengan dua gending pusaka, Rambu dan Rangkung, yang selalu mengawali tabuhan sekaten.
Gending ladrang Barangmiring menjadi bagian penting dari perayaan sekaten sebelum gending pathet barang dimainkan.
Hingga Kartasura dan Surakarta, tradisi sekatenan tetap hidup.
Gamelan sekaten yang lebih besar diperkenalkan pada masa pemerintahan Pakubuwana IV (1788-1820), dikenal sebagai Kangjeng Kiai Nagajenggot dan Kangjeng Kiai Gunturmadu.
Setelah tujuh hari perayaan, sekaten ditutup dengan prosesi gunungan.
Saat pemerintahan Sultan Agung di Mataram, prosesi gunungan, yang berupa arak-arakan, diadakan secara teratur.
Setiap gunung, yang mewakili unsur linga atau meru, memiliki 24 jodhang.
Gunungan laki-laki dan perempuan diikuti oleh prosesi yang mirip dengan rangkaian kereta api, dengan abdi dalem panèwu-mantri dan Bupati Pangrehpraja yang berjalan di sekitar gunungan terakhir.
Garebeg Mulud dan Sekaten bukan hanya sebuah perayaan, melainkan pewarisan kekayaan budaya dan spiritualitas yang masih terus berlangsung hingga saat ini. (mg5/nda)