Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Dibalik Anggunnya Kesenian Langendriyan, Ternyata Dulunya Berawal Dari Lantunan Tembang Jawa Para Buruh Batik

Nindia Aprilia • Sabtu, 6 Januari 2024 | 23:00 WIB
Kesenian Langendriyan
Kesenian Langendriyan

SOLOBALAPAN.COM – Negara Indonesia dengan banyaknya ragam suku dan budaya melahirkan berbagai bentuk kesenian yang terjaga hingga kini. Salah satu kesenian yang masih dilestarikan adalah Langendriyan.

Dilansir dari surakarta.go.id, Langendriyan merupakan sebuah kesenian khas Jawa berlatar drama tari yang bermula di Pura Mangkunegaran Surakarta.

Kesenian satu ini merupakan opera asli Jawa.

Nama "Langendriyan" berasal dari kata "langen" yang memiliki arti hiburan dan "driya" yang berarti hati. Maka dari itu, Langendriyan dapat diartikan sebagai tarian hati.

Kesenian Langendriyan ditampilkan dengan menggabungkan seni tari, drama, musik, narasi, gerak dan ekspresi.

Meskipun Langendriyan berbentuk drama tari, akan tetapi kesenian satu ini berbeda dengan wayang orang.

Perbedaan tersebut terlihat pada bentuk dialog yang digunakan.

Pada pertunjukan wayang orang, umumnya menggunakan bentuk dialog antawacana atau percakapan biasa dan terkadang terdapat sedikit tembangnya.

Sedangkan Langendriyan, bentuk keseluruhan dialognya menggunakan tembang macapat. Lebih lanjut dari itu, terkadang dalam satu pupuh tembang dibawakan oleh satu orang ataupun lebih secara bergantian.

Salah satu ciri dari kesenian Langendriyan adalah tari yang ditampilkan tidak dilakukan secara utuh berdiri, akan tetapi juga dilakukan dengan berjongkok dan sesekali berlutut.

Tak heran, para penari Langendriyan harus memiliki stamina dan fisik yang sangat kuat.

Gerakan tari pada keseninan Langendriyan berupa gerakan yang lembut sekaligus atraktif sehingga hal ini membuat Langendriyan tidak mudah dilakukan.

Gerakan yang terkesan gemulai dapat berganti menjadi atraktif secara tiba-tiba, sementara alunan tembang terus mengalir dari mulut para penari ketika mereka bergerak.

Awalnya, kesenian Langendriyan diciptakan oleh R.T. Purwadiningrat di lingkungan keraton Yogyakarta. Namun, kemudian kesenian ini lebih berkembang di Pura Mangkunegaran.

Konon, Langendriyan versi Mangkunegaran berasal dari tradisi "ura-ura" atau nembang yang dilakukan oleh para buruh batik di perusahaan batik milik seorang warga Negara Belanda di daerah Pasar Pon.

Godlieb Kilian yang merupakan seorang warga Negara Belanda tersebutlah yang pertama menggelar pentas Langendriyan.

Dilansir dari salah satu jurnal penelitian berjudul “Langendriyan Dari Dapur Batik Menuju Pendapa Agung Istana” karya Irawati Kusumorasri, karena kebiasaannya yang mendengarkan kaum perempuan melantunkan tembang Jawa sembari membatik, Godlieb kemudian berkeinginan untuk mencoba mengemas kebiasaan tersebut menjadi sebuah pertunjukan.

Namun, karena keterbatasan kemampuan seni yang dimilikinya membuat Godlieb lebih memilih untuk menyerahkan gagasannya tersebut kepada pakar pertunjukan.

Saat itu, kebetulan dirinya memiliki hubungan dekat dengan istana Pura Mangkunegaran.

Keinginan Godlieb kemudian mendapat tanggapan yang baik dari pihak istana, khususnya dari Raden Mas Haria Tandakusuma yang merupakan putra Mangkunegara IV (1853-1881).

Atas titah dan restu dari Mangkunegara IV, kemudian sekitar tahun 1970-an kesenian Langendriyan mulai dalam proses pembentukan.

Dalam proses tersebut, Raden Mas Tandakusuma melatih para buruh batik supaya bisa menari.

Proses penyusunan seni Langendriyan ini memakan waktu kurang lebih selama satu tahun. Kemudian, setelah kurun waktu satu tahun tersebut barulah kesenian Langendriyan dipersembahkan kepada Mangkunegara IV selaku penguasa istana Pura Mangkunegaran saat itu.

Setelah diterima oleh Mangkunegara IV, selanjutnya dilakukanlah persiapan untuk mengadakan pentas perdana. Saat itu, kebetulan sedang terdapat persiapan pesta untuk perayaan khitan salah satu putra dalem Mangkunegara IV.

Maka, momentum inilah yang kemudian digunakan sebagai pentas perdana kesenian Langendriyan. Pentas perdana tersebut diselenggarakan di Pendapa Agung Pura Mangkunegaran. (mg4/nda)

Editor : Nindia Aprilia
#tradisi #jawa #Langendriyan