SOLOBALAPAN.COM - Malam selikuran merupakan salah satu tradisi yang digelar untuk menyambut datangnya lailatul qadar di Keraton Surakarta.
Tradisi ini dilaksanakan pada tanggal 21 Ramadhan setiap tahunnya.
Dilansir dari surakarta.go.id, awalnya tradisi malam selikuran dikembangkan oleh Sultan Agung. Namun, dalam perkembangannya sempat mengalami pasang surut.
Kemudian, tradisi ini kembali dihidupkan pada masa pemerintahan Pakubuwana IX dan mengalami puncak pada masa Pakubuwana X.
Kala itu, tradisi malam selikuran dilaksanakan dengan mengarak tumpeng dan iringan lampu ting atau pelita. Tumpeng tersebut diarak dari Keraton menuju Masjid Agung Surakarta.
Lampu ting yang menjadi iringan tumpeng dianggap sebagai simbol dari obor yang dibawa para sahabat ketika menjemput Rasulullah SAW setelah menerima wahyu di Jabal Nur.
Tumpeng yang diarak berupa nasi gurih yang dibentuk tumpeng berukuran kecil dilengkapi dengan kedelai hitam, rambak, mentimun, dan cabai hijau. Keseluruhan dari nasi dan lauk pauk tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang terbuat dari besi atau kuningan.
Dalam tradisi ini, nasi tumpeng tersebut dibuat dengan jumlah sebanyak seribu. Jumlah tersebut melambangkan pahala yang setara dengan seribu bulan.
Keraton Surakarta berkeyakinan bahwa pada malam lailatul qadar, Allah SWT menurunkan anugerah setara seribu bulan kepada Rasulullah SAW.
Kemudian, nasi tumpeng tersebut diarak oleh para abdi dalem dan didoakan oleh pemuka agama.
Kalangan keraton dan seluruh masyarakat Jawa mengharapkan limpahan berkah dan anugerah seperti yang telah diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW di malam lailatul qadar.
Setelahnya, para rombongan abdi dalem menuju titik terakhir yaitu Taman Sriwedari.
Tradisi malam selikuran ini ada kaitannya dengan petuah yang ditulis Pakubuwana IV dalam salah satu karyanya, yaitu Serat Wulangreh.
Serat Wulangreh memiliki arti harfiah yaitu pengajaran dan perintah secara tersirat ingin menunjukkan kedalaman makna wahyu Al-Qur'an.
Sunan Pakubuwana IV sebagai pewaris dinasti Mataram di Keraton Surakarta Hadiningrat menulis petuah tersebut dalam tembang dhandanggula.
Tembang dhandhanggula tersebut berbunyi:
Jroning Qur'an nggoning rasa jati
(Al-Qur'an adalah tempat rasa sejati)
Nanging pilih wong kang uninga
(Tetapi tidak setiap orang mengetahuinya)
Anjaba lawan tuduhe
(Kecuali mereka yang tekun dan patuh)
Nora kena binawar
(Karena jika demikian)
Ing satemah nora pinanggih
(dia tidak akan menemui sejatinya ajaran)
Mundhak katalanjukan
(Jangan pula sembarangan)
Temah sasar susur
(Bisa mengakibatkan kesasar)
Yen sirdayun waskitha
(Jika engkau waspada)
Kasampurnaning badanira puniki
(Akan mendapatkan kesempurnaan)
Sira anggegurua
(Karenanya engkau harus berguru)
Pada dua baris pertama tembang dhandhanggula tersebut, Pakubuwana IV menuturkan tentang pentingnya penghayatan Al-Qur’an dan orang-orang terpilih yang memahaminya.
Ungkapan itulah yang mengilhami masyarakat Jawa dalam menghayati Al-Qur’an serta meyakininya bahwa terdapat misteri anugerah dari Allah SWT yang turun di malam lailatul qadar.
Tradisi malam selikuran menjadi salah satu tradisi yang memiliki nilai budaya dan religius. Tradisi ini tentunya juga memiliki makna mendalam bagi masyarakat Jawa.
Selain itu, tradisi malam selikuran juga menjadi penghayatan masyarakat Jawa terhadap agama Islam. (mg4/nda)