Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Patung Loro Blonyo, Dimulai dari Kisah Cinta Raden Sadana dan Dewi Sri Menjadi Simbol Keharmonisan

Nindia Aprilia • Kamis, 4 Januari 2024 | 23:00 WIB
Patung Loro Blonyo
Patung Loro Blonyo

SOLOBALAPAN.COM - Loro Blonyo merupakan sepasang patung pengantin yang sedang duduk bersila. Biasanya, patung ini banyak dijumpai di upacara pernikahan.

Dilansir dari indonesia.go.id, patung Loro Blonyo telah ada sejak masa kepemimpinan Sultan Agung di Kerajaan Mataram pada 1476.

Konon, Loro Blonyo merupakan representasi dari Dewa Wisnu dan Dewi Sri. Banyak kisah yang menceritakan tentang filosofi dari sepasang patung pengantin ini.

Berdasarkan kisah salah satu versi dari mitologi Jawa dan Nusantara, awalnya Dewi Sri diciptakan oleh Batara Guru karena kesepian. Kemudian, karena kecantikan Dewi Sri akhirnya Batara Guru jatuh cinta padanya.

Dewi Sri menolak dengan mengajukan tiga syarat yang tak dapat dipenuhi oleh Batara Guru. Lantas, Batara Guru marah dan mengutus Kala Gumarang untuk menyelidiki, ia merasa ada dewa lain yang menghalangi niatnya.

Namun, sang utusan juga terpesona oleh kecantikan Dewi Sri. Kala Gumarang akhirnya mengejar Dewi Sri kemanapun hingga Dewi Sri marah dan mengutuknya menjadi babi.

Akan tetapi meskipun telah dikutuk menjadi babi, ia tetap mengejar Dewi Sri sampai ke dunia. Dewi Sri tinggal di tempat yang ditumbuhi tanaman padi serta tanaman lainnya.

Dari tanaman tersebut kemudian terpancarlah cahaya yang menyilaukan. Kemudian, Prabu Mangkukuhan dari Kerajaan Medang melihat cahaya kemilau yang terpancar dari sosok cantik tersebut.

Setelah ia tahu bahwa sosok cantik tersebut adalah Dewi Sri, Prabu Mangkukuhan yang merupakan jelmaan Batara Wisnu kemudian mengambil Dewi Sri sebagai istrinya.

Sementara itu, tanaman yang berada di tempat tinggal Dewi Sri dimanfaatkan oleh rakyat dengan memelihara serta menjaganya dari babi dan hama lainnya.

Versi lain menyebutkan bahwa Dewi Sri dan Raden Sadana merupakan saudara kembar (kendhono-kendhini). Keduanya saling mencintai dan ingin menikah, namun tidak terlaksana karena mereka merupakan saudara kandung.

Karena putus asa, Raden Sadana akhirnya bunuh diri dengan harapan dapat reinkarnasi menjadi manusia lain dan menikah dengan Dewi Sri. Sepeninggal Sadana, Dewi Sri hidup mengembara. Ia terus dikejar oleh Bathara Kala.

Dewi Sri kemudian ditolong oleh para petani, sebagai balas jasa Dewi Sri kemudian memberi mereka hasil sawah yang melimpah melalui kesaktiannya.

Dari legenda tersebut, para petani kemudian membalas kebaikan Dewi Sri dengan mengabadikan Dewi Sri dan Raden Sadana dalam bentuk patung pengantin yang duduk berdampingan.

Seiring berjalannya waktu, patung tersebut terus berkembang dan terbawa hingga masa sekarang.

Pada bentuknya juga mengalami perkembangan, saat ini patung Loro Blonyo tak hanya dibuat dalam posisi duduk namun juga terdapat dalam posisi berdiri serta ditambah dengan beberapa aksesoris lainnya.

Pemberian nama "Loro Blonyo" pada sepasang patung tersebut memiliki arti kemakmuran dan keturunan atau juga dapat berarti kemakmuran dan kesinambungan.

Hal tersebut juga merujuk pada pemaknaan Dewi Sri sebagai Dewi Padi atau Dewi Kesuburan serta Raden Sadana sebagai pemelihara kelestarian alam semesta.

Pada rupanya, patung pengantin laki-laki mengenakan kuluk kanigara berwarna hitam dengan garis kuning yang disusun secara tegak dan melingkar. Kuluk tersebut merupakan penutup kepala yang biasanya dikenakan oleh para Raja, kemudian menggunakan semacam stagen yang diberi sabuk secara melingkar.

Posisi kedua tangannya diletakan di atas pusar serta kakinya bersila dengan telapak dan jari-jari kaki yang diperlihatkan.

Kemudian, pada rupa patung pengantin perempuan mengenakan busana khas Jawa yaitu kemben serta riasan pada bagian dahi. Bentuk rambut digelung dengan menggunakan mahkota dan sunduk mentul.

Posisi kakinya sedang timpuh atau bersikap hormat dengan bagian telapak dan jari kanan kiri terlihat.

Menurut catatan sejarah, patung Loro Blonyo berkaitan erat dengan kultur dan budaya. Konon, hanya kaum priyayi etnis Jawa yang memilikinya.

Biasanya patung Loro Blonyo diletakkan di rumah bagian tengah pada rumah joglo milik kaun priyayi tersebut. Bagian yang terdapat patung Loro Blonyo dianggap sebagai wilayah pribadi suami dan istri.

Selain itu, patung Loro Blonyo juga dianggap sebagai simbol harapan serta dipercaya dapat menimbulkan aura positif yang dapat menciptakan keharmonisan dalam kehidupan rumah tangga sehingga tetap terjaga.

Seiring perkembangan zaman, patung Loro Blonyo tidak hanya sebagai simbol keharmonisan bagi suami istri. Patung tersebut juga dijadikan sebagai aksesoris interior ruangan. (mg4/nda)

Editor : Nindia Aprilia
#simbol #patung #loro blonyo #keharmonisan #kisah cinta