Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Mengenal Ruwahan, Tradisi Masyarakat Jawa Jelang Ramadhan yang Masih Dilestarikan Oleh Pura Mangkunegaran

Nindia Aprilia • Rabu, 3 Januari 2024 | 22:16 WIB
Pelaksanaan tradisi Ruwahan di Puro Mangkunegaran
Pelaksanaan tradisi Ruwahan di Puro Mangkunegaran

SOLOBALAPAN.COM - Bagi orang Islam, bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat ditunggu kehadirannya. Di daerah Jawa sendiri terdapat suatu tradisi yang dilakukan untuk menyambut bulan suci ini, tradisi tersebut yaitu tradisi Ruwahan.

Dilansir dari pariwisatasolo.surakarta.go.id, Ruwahan merupakan tradisi yang masih dilakukan menjelang bulan Ramadhan. Tradisi ini menggabungkan adat Jawa serta ajaran agama Islam.

Nama “Ruwahan” berasal dari kata "Ruwah". Dalam kalender Jawa, bulan Ruwah merupakan bulan ketujuh atau jika dalam kalender Hijriyah dinamakan bulan Sya'ban.

Kata "Ruwah" merupakan akar kata dari "arwah" yang berarti roh para leluhur. Konon, dari kata "arwah" inilah bulan Ruwah dijadikan sebagai bulan untuk mengenang para leluhur.

Tradisi Ruwahan dilakukan oleh masyarakat Muslim di beberapa daerah. Tentunya nama dari tradisi tersebut dan kegiatan yang dilakukan berbeda di setiap daerahnya.

Dilansir dari kec-kebumen.kebumenkab.go.id, di daerah Jawa Barat, tradisi untuk menyambut bulan Ramadhan dikenal dengan sebutan tradisi Munggahan (Punggahan). Sedangkan di daerah Jawa Tengah dikenal dengan nama tradisi Ruwahan, Sadranan atau Nyadran.

Akan tetapi, meskipun dilakukan dengan nama dan tata cara yang berbeda, namun tujuan dari pelaksanaan tradisi ini sama-sama untuk mendoakan para leluhur mereka.

Di Kota Solo, tradisi ini juga dilaksanakan setiap tahun oleh Pura Mangkunegaran. Biasanya tradisi Ruwahan dilaksanakan pada malam hari setelah tanggal 10 di bulan Ruwah atau tepatnya di hari kamis malam jum'at.

Pemilihan waktu dilaksanakannya tradisi Ruwahan ini merujuk pada perhitungan Jawa. Berdasarkan perhitungannya, malam Jum'at merupakan hari yang baik sehingga cocok untuk pelaksanaan tradisi ini.

Salah satu yang menjadi acara utama dalam tradisi Ruwahan adalah kegiatan ziarah kubur. Di beberapa daerah yang melaksanakan tradisi ini kegiatan ziarah kubur merupakan acara utama yang dilaksanakan.

Di Solo, tradisi Ruwahan diawali dengan membaca do'a kepada Tuhan. Pembacaan do'a ini dimaksudkan untuk memohon ampunan bagi para leluhur.

Selain itu juga untuk memohon kekuatan dari Tuhan agar Pengageng Pura saat ini diberikan kekuatan dan kesehatan dalam melanjutkan perjuangan para leluhur.

Dalam acara ini, berbagai hidangan juga dipersiapkan untuk kelengkapan tradisi Ruwahan.

Berbagai hidangan tersebut berupa hasil bumi yaitu makanan, sayuran, buah-buahan, dan bunga tabur. Hal ini merupakan suatu bentuk rasa syukur kepada Tuhan.

Rangkaian acara terakhir dari tradisi Ruwahan adalah melakukan ziarah ke makam-makam para leluhur Pura Mangkunegaran.

Makam-makam tersebut yaitu Astana Mangadeg, Astana Girilayu, Astana Nayu Utara, Astana Kotagedhe Yogyakarta, Astana Imagiri, dan beberapa tempat penting lainnya.

Tradisi Ruwahan mengandung beberapa nilai moral yang dapat diteladani. Beberapa nilai moral tersebut seperti moral terhadap Tuhan, lingkungan, dan diri sendiri. (mg4/nda)

Editor : Nindia Aprilia
#ruwahan #ramadhan #Pura Mangkunegaran