SOLOBALAPAN.COM - Dalam berpakaian, biasanya sebagian perempuan identik dengan penggunaan aksesoris. Aksesoris menjadi poin tambahan yang dapat mempercantik penampilan, salah satunya yaitu selendang.
Dilansir dari museum.kemdikbud.go.id, selendang merupakan salah satu kelengkapan pakaian perempuan yang digunakan pada upacara adat. Terdapat beragam jenis kain yang digunakan dalam pembuatan selendang seperti kain batik, songket, maupun kain bersulam.
Selendang memiliki bentuk berupa kain panjang dengan cara penggunaannya yang diselempangkan atau disimpangkan. Terkadang juga digunakan untuk melindungi kepala, menggendong, atau hanya sekedar untuk mempercantik penampilan.
Sebagian besar selendang memiliki motif batik yang berbeda di masing-masing daerah. Biasanya selendang menjadi bagian yang turut digunakan dalam upacara pernikahan, kehamilan, kelahiran, kematian, serta tari tradisional.
Selain itu, selendang juga menjadi kelengkapan busana adat di Bali yang wajib digunakan ketika melakukan sembahyang, memasuki tempat suci, dan melakukan upacara lainnya.
Selendang telah digunakan di era Syiwaisme dan Brahmanisme. Jauh sebelum era keduanya, selendang sempat menjadi pelengkap busana yang umum digunakan oleh laki-laki maupun perempuan.
Pada masa kejayaan Syiwaisme, selendang dijadikan sebagai lambang kasih sayang. Mereka menggunakan selendang dengan cara menyelipkannya di dalam ikat pinggang, selendang tersebut kemudian digunakan sebagai alas duduk atau sekedar diselempangkan di pundak saat berdiri dan berjalan.
Seiring dengan beralihnya kekuasaan Kerajaan Singasari ke Majapahit, masa kejayaan Syiwaisme mulai digantikan oleh aliran Brahmanisme. Saat itulah menjadi awal mula pengidentikkan selendang pada perempuan.
Nama Selendang sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu "sala" yang berarti alas atau ruang. Sehingga, awalnya selendang hanya digunakan sebagai alas duduk layaknya permadani di ruang pertapaan.
Para pertapa memakaikan selendang pada istri, anak perempuan serta perempuan pertapa lainnya. Dalam bahasa Jawa kuno, istri-istri dan perempuan pertapa dipanggil dengan sebutan "endang", hal tersebut dikarenakan pada masa ini setiap perempuan diperlakukan sebagai "wong kang ditoto" atau orang yang ditata.
Sejak itulah selendang atau kain "sala" yang telah digunakan para pertapa untuk menata "endang" disebut sebagai "selendang". Nama "selendang" merupakan gabungan dari kata "sala" dan "endang".
Pada masa itu, status sosial perempuan dicerminkan melalui tekstur kain pada selendang. Selendang berbahan halus hanya boleh digunakan oleh perempuan berstatus sosial tinggi, sedangkan perempuan dari golongan rakyat biasa menggunakan jenis selendang yang berbahan kasar.
Fungsi utama dari selendang awalnya hanya sebagai aksesoris untuk mempercantik penampilan sekaligus penutup bagian leher dan dada. Namun, seiring berjalannya waktu selendang juga digunakan sebagai gendongan.
Selain itu, di era Brahmanisme status selendang kerap beralih menjadi benda dekorasi yang dipasang mengelilingi ruang khusus perempuan.
Saat ini, hampir di seluruh wilayah Indonesia memiliki selendang dengan bentuk dan motif tersendiri. Kegunaannya juga bermacam-macam seperti pelengkap upacara adat, tari, aksesoris busana, gendongan, ayunan, penutup tubuh dan kepala, serta kegunaan lainnya. (mg4/nda)