SOLOBALAPAN.COM - Tradisi Wilujengan Nagari Mahesa Lawung merupakan salah satu upacara adat yang masih dilestarikan oleh keraton Kasunanan Surakarta. Tradisi ini masih menjadi ritual yang sangat sakral bagi mereka.
Dilansir dari kratonsurakarta.com, tradisi ini menjadi salah satu bentuk permohonan doa keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan doa keselamatan untuk Negara Indonesia serta seluruh rakyatnya.
Dalam pelaksanaannya diikuti oleh seluruh kerabat keraton. Upacara adat ini dilaksanakan setiap senin atau kamis pada bulan setelah Mulud (pisowanan terakhir).
Tempat untuk melaksanakan upacara adat Mahesa Lawung berada di pundhen alas Krendowahono, Gondangrejo, Karanganyar. Dalam prosesi upacaranya, kerabat keraton membawa sesaji yang telah ditentukan secara turun temurun.
Mahesa Lawung terdiri dari dua kata dalam kamus bahasa Jawa, “Mahesa” memiliki arti kerbau sedangkan “Lawung” berarti tombak. Sehingga, Mahesa Lawung berarti tradisi ritual persembahan atau pengorbanan kerbau yang telah disembelih.
Tradisi ini telah dilakukan oleh masyarakat Hindu di Jawa pada 387 M . Menurut hikayat, pada zaman dahulu orang-orang menggunakan tombak ketika menyembelih kerbau.
Hal tersebut menjadi ciri khas dari tradisi Mahesa Lawung, tradisi ini menjadi upacara adat dengan memberikan sesaji berupa kepala kerbau. Selain itu, dalam tradisi ini juga terdapat prosesi utama yang dilaksanakan yaitu mengubur kepala kerbau jantan yang belum pernah dipekerjakan atau dikawinkan sebelumnya.
Berbagai jenis sesaji digunakan dalam tradisi ini, namun sesaji utama yang digunakan adalah kepala kerbau. Sesaji lain yang juga disiapkan berupa hasil alam yang meliputi buah serta umbi-umbian.
Selain itu, jajanan pasar dan lele sajodho kendhil atau sepasang ikan lele yang dimasukkan ke dalam tempat sesajian seperti kendil juga disiapkan untuk sesaji. Kendil yang digunakan untuk menampung ikan lele harus diisi dengan air tempuran, air tempuran merupakan air yang diambil dari pertemuan dua arus sungai.
Upacara adat Mahesa Lawung terdiri dari beberapa prosesi. Rangkaian upacara ini dimulai dengan mengangkut ubarampe sesaji dari dalem Gondorasan ke Bangsal Sewayana kompleks Siti Hanggil di keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Untuk diketahui, ubarampe adalah perlengkapan yang dibutuhkan dalam upacara adat. Dalam upacara adat Mahesa Lawung ubarampe yang dibawa berarti sesajian yang telah disiapkan.
Di Bangsal Sewayaa Siti Hanggil ini kemudian diadakan upacara pemanjatan doa. Setelah pemanjatan doa selesai, sesajian tersebut akan dibawa menuju hutan Krendowahono untuk ditata.
Penataan sesaji dilakukan di atas pundhen yang berada di bawah pohon beringin putih dan terletak di tengah hutan. Konon, pundhen tersebut dipercaya sebagai tempat sakral sekaligus kedhaton dari Kanjeng Ratu Bathari Kalayuwati.
Kanjeng Ratu Bathari Kalayuwati merupakan putri Bathari Durga yang dipercaya sebagai penguasa jin, brekasakan, drubiksa, priprayangan, ilu-ilu, banaspati, wewe, gandarwa, dan berbagai jenis makhluk gaib lain.
Setelah sesaji ditata, kemudian salah satu ulama keraton diperintahkan oleh Pengageng Sasana Wilapa untuk membuat perapian. Setelahnya, dimulailah upacara Mahesa Lawung dengan pembacaan doa oleh ulama keraton dan abdi dalem Suranata.
Pembacaan doa dilanjut secara pribadi oleh masing-masing putra sentana yang dilakukan secara bergiliran dengan menaiki pundhen. Prosesi selanjutnya adalah prosesi utama yaitu mengubur kepala kerbau di hutan Krendowahono yang letaknya tidak jauh dengan keberadaan pohon beringin putih.
Sementara itu, sesajian lainnya diturunkan dari atas pundhen dan dibawa ke sebuah pendapa yang letaknya sebelahan dengan pundhen tersebut. Sesajian yang telah diturunkan kemudian dibagikan kepada para abdi dalem dan kawula dalem yang mengikuti prosesi upacara Mahesa Lawung sampai selesai.
Tradisi Wilujengan Nagari Mahesa Lawung ini merupakan tradisi yang dilakukan secara turun temurun. Tradisi ini juga menjadi budaya warisan leluhur yang masih dilestarikan oleh keraton Kasunanan Surakarta sampai sekarang. (mg4/nda)