SOLOBALAPAN.COM - Tradisi apem sewu merupakan salah satu tradisi yang diadakan oleh masyarakat Kampung Sewu, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta. Tradisi ini dilaksanakan setiap bulan Dzulhijah.
Tradisi apem sewu berawal dari pesan yang disampaikan oleh penyiar agama Islam yang bernama Ki Ageng Gribig. Beliau berpesan kepada seluruh masyarakat untuk membuat kue apem sebanyak seribu buah yang kemudian kue apem tersebut dibagi-bagikan.
Asal muasal dari pesan tersebut bermula pada zaman dahulu bahwasanya seringkali terdapat korban yang jatuh ke sungai Bengawan Solo karena Kampung Sewu terletak di pinggiran sungai yang merupakan kawasan rawan banjir.
Mengetahui hal tersebut, Ki Ageng Gribig kemudian bersemedi di Kampung Sewu. Beliau mendapat petunjuk dari Allah SWT untuk melakukan sedekah. Dari petunjuk tersebut, Ki Ageng Gribig memerintahkan para masyarakat di sekitar sungai untuk bersedekah dengan membuat kue apem sebanyak seribu (sewu).
Ki Ageng Gribig percaya, kue apem dengan jumlah yang banyak tersebut dapat membawa kemakmuran dan tolak bala.
Konon, pada proses pembuatan kue apem terdapat suatu aturan yang harus dilakukan. Kue apem harus dibuat oleh orang tua yang telah mengalami menopause atau telah berakhir dari masa menstruasi, jika aturan ini tidak dilaksanakan maka kue apem tersebut tidak berhasil dibuat.
Mitos inilah yang berkembang di masyarakat hingga masih banyak yang mempercayai hal tersebut. Bagi sebagian orang hal ini memang menjadi salah satu kepercayaan bagi mereka.
Tradisi apem sewu diikuti oleh 9 Rukun Warga (RW) dan 30 Rukun Tetangga (RT) yang berada di Kampung ini. Dilaksanakan secara arak-arakan, keseluruhan peserta pada kirab ini mengenakan pakaian adat Solo yang kemudian mengarak kue apem sebanyak seribu buah menuju Tempuran, tempat prasasti apem sewu dengan panjang tiga kilometer.
Kirab ini berlangsung selama satu hari yang dimulai dengan prosesi penyerahan bahan makanan pembuatan kue apem dari tokoh masyarakat Solo kepada sesepuh Kampung Sewu. Prosesi ini dilakukan di pinggir sungai dekat dengan lokasi prasasti.
Apem sebanyak seribu tersebut kemudian didoakan dan dibagikan secara menyebar kepada masyarakat. Mereka percaya ketika kue apem tersebut sampai di tangan maka keberkahan akan datang.
Tradisi ini bertujuan untuk mengenalkan Kampung Sewu sebagai kampung produksi apem kepada seluruh kalangan masyarakat.
Selain itu, pembagian kue apem sebanyak seribu buah ini juga bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur atas karunia dari Allah SWT setelah masyarakat di Kampung Beton terhindar dari wabah penyakit pageblug.
Tujuan tersebut kemudian menjadi sebuah tradisi yang dilakukan secara turun temurun sejak ratusan tahun lalu. Tradisi Kirab apem sewu masih dilakukan hingga kini dan dilestarikan khususnya setiap bulan Dzulhijah.
Lebih lanjut, tradisi apem sewu tentunya menjadi suatu bentuk pelestarian budaya, tradisi ini dapat dijadikan pembelajaran bagi generasi muda mengenai sejarah dan budaya warisan leluhur. (mg4/nda)
Editor : Nindia Aprilia