Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Berawal Dari Kebaya Hijau, Menjadi Saksi Temu Presiden Soekarno dan Heldy Djafar

Nindia Aprilia • Selasa, 26 Desember 2023 | 15:45 WIB
Heldy membuka kembali surat cinta Sukarno kepadanya
Heldy membuka kembali surat cinta Sukarno kepadanya

SOLOBALAPAN.COM - Kebaya merupakan pakaian adat yang kerap digunakan oleh perempuan Jawa. Pada tahun 1600-1900 kebaya menjadi pakaian resmi perempuan Kerajaan Islam di Cirebon, Yogyakarta, dan Surakarta.

Kemudian pada 1965-1970, Presiden Soekarno menetapkan kebaya sebagai pakaian nasional perempuan Indonesia. Kebaya dilarang digunakan sebagai pakaian kerja sehari-hari secara formal, kebaya hanya boleh digunakan untuk acara Dharma Wanita ataupun acara resmi lainnya.

Dalam buku “Istri-istri Sukarno” karya Reni Nuryanti dituliskan, kisah cinta Soekarno dengan Heldy Djafar juga berawal dari kebaya. Di tahun yang sama, keduanya bertemu ketika Heldy tengah mengenakan kebaya berwarna hijau.

Heldy Djafar merupakan istri terakhir Presiden Soekarno. Heldy yang merupakan perempuan asal Tenggarong, Kalimantan Timur saat itu tidak pandai dalam mengenakan kebaya.

Ketidakpandaian tersebut membuat dirinya menjadi pusat perhatian Presiden Soekarno.

Di samping itu, warna hijau dalam busana melambangkan kesejukan dan kesegaran. Kesegaran yang terpancar dari kebaya hijau Heldy tampaknya berhasil memikat perhatian Presiden Sukarno kala itu.

Pertemuan mereka ini terekam pada sebuah acara di Istana Bogor. Eksistensi Heldy yang saat itu mengenakan kebaya hijau disadari oleh Presiden Soekarno yang kemudian membuat perempuan asal Tenggarong tersebut selalu berada di dekatnya.

Heldy diminta untuk menampilkan tari lenso, tarian penyambut yang berasal dari Maluku di depan Presiden Soekarno. Kemudian, Presiden Soekarno juga mengajak Heldy untuk berdansa.

Tak hanya itu, di acara berikutnya ketika seorang penyanyi melantunkan liriknya yang berbunyi “…Baju hijau siapa yang punya, Baju hijau Bapak yang punya…”. Saat itu, tidak ada perempuan yang mengenakan kebaya hijau selain Heldy.

Menurut orang-orang kala itu, lantunan lirik tersebut menjadi teguran Presiden Soekarno kepada perempuan yang ia labuhkan hatinya. Satu tahun setelahnya, Presiden Soekarno melamar Heldy dan berakhir menikahi perempuan tersebut.

Nah, itulah kisah cinta Presiden Soekarno dan Heldy Djafar yang berawal dari sebuah kebaya hijau. Sayangnya, karena kondisi politik yang saat itu tengah memanas, umur pernikahan mereka hanya mencapai dua tahun lamanya. (mg4/nda)

Editor : Nindia Aprilia
#istri soekarno #kebaya hijau #presiden soekarno