Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Mengenal Tari Gambyong Sebagai Tari Penyambutan, Begini Ciri Khas dan Keunikannya

Nindia Aprilia • Sabtu, 23 Desember 2023 | 18:53 WIB

Saat Tari Gambyong Dipentaskan
Saat Tari Gambyong Dipentaskan


SOLOBALAPAN.COM - Tari Gambyong merupakan salah satu tarian rakyat yang paling populer di Kota Solo dan kemudian berkembang ke kota-kota lainnya di Jawa Tengah.

Konon, nama tarian ini berasal dari seorang penari tledhek asal Solo bernama Nyai Lurah Gambyong atau dikenal dengan Sri Gambyong yang hidup pada masa pemerintahan Pakubuwana IV (1788-1820).

Sebenarnya, tari Gambyong merupakan variasi dari tari tayub atau tledhek yang biasa ditarikan pada acara penyambutan. Tari tayub sendiri dikenal sebagai tari pergaulan.

Dilansir dari dpad.jogjaprov.go.id, tari Gambyong bukanlah hanya satu tarian saja melainkan terdiri dari bermacam-macam koreografi, yang paling dikenal adalah Tari Gambyong Pareanom yang diciptakan oleh Nyi Bei Mintoraras pada 1950 dan Tari Gambyong Pangkur.

Selain Gambyong Pareanom dan Pangkur, terdapat macam-macam tarian Gambyong lainnya seperti Gambyong Mudhatama, Gambyong Sala Minulya, Gambyong Ayun-ayun, Gambyong Gambirsawit, Gambyong Dewandaru, dan Gambyong Campursari.

Meskipun terdiri dari banyak macamnya, tarian ini memiliki gerakan yang sama yaitu gerakan tarian tayub atau tledhek.

Awalnya, tari Gambyong diciptakan untuk penari tunggal. Namun, sekarang lebih sering dibawakan oleh beberapa penari dengan menambahkan unsur dalam menguasai panggung sehingga melibatkan pergerakan yang besar.

Dikutip dari buku Sejarah Tari Gambyong, tarian ini mulai digunakan dalam Serat Centhini yang ditulis pada abad XIX dan merupakan perkembangan dari tari tayub.

Di samping itu, dalam Serat Sastramirada disebutkan tarian tayub telah dikenal sejak zaman kerajaan Jenggala atau sekitar abad XII. Sedangkan tari tledhek dikenal sejak zaman Demak atau abad XV yang ditampilkan dengan cara mengamen dan biasanya diiringi dengan vokal sinden, rebana, dan kendang.

Umumnya, tari Gambyong terdiri atas tiga bagian yang disebutkan dalam istilah tari Jawa gaya Surakarta yaitu maju beksan (awal), beksan (utama), dan mundur beksan (penutup).

Gerakan yang menjadi fokus utama dari keseluruhan tarian ini terletak pada gerak kaki, lengan, tubuh, dan juga kepala. Sedangkan pada gerakan dasarnya, gerakan kepala dan tangan adalah ciri khas utama tari Gambyong.

Ciri khas tersebut membuat tari Gambyong memiliki nilai keunikan. Salah satu keunikan tarian ini terlihat pada pandangan mata penari yang sering melihat ke arah jari tangan seiring dengan gerakan tangannya. Selain itu, pergerakan kaki yang secara harmonis mengikuti alunan musik pengiring.

Gerakan tari Gambyong bertempo pelan, para penari menari dengan luwes yang menggambarkan sebuah kelembutan dan keindahan seorang perempuan.

Dalam menarikan gerakannya, pakaian yang digunakan bernuansa kuning dan hijau. Ini sebagai simbol kemakmuran dan kesuburan.

Sebelum tarian dimulai, tari Gambyong selalu diawali dengan alunan musik Jawa Gendhing Pangkur yang dilantunkan oleh sinden dan diiringi alat musik berupa gamelan. Gendhing Pangkur merupakan nyanyian awalan yang digunakan untuk mengundang para penari naik ke atas panggung.

Konsep awal dari tari Gambyong sebenarnya digunakan pada upacara ritual pertanian yang memiliki tujuan untuk kesuburan padi dan perolehan panen yang melimpah. Dalam pertunjukannya, Dewi padi atau Dewi Sri digambarkan sebagai para penari.

Namun, pihak Keraton Mangkunegara merombak dan menyeragamkan struktur gerakannya. Sebelumnya, tarian ini adalah milik rakyat yang digunakan sebagai bagian dalam upacara.

Kini, tari Gambyong digunakan untuk memeriahkan acara resepsi penikahan, menyambut tamu-tamu kehormatan atau kenegaraan dan menjadi salah satu tarian tradisional yang populer di Jawa Tengah. (mg4/nda)

PENUH: Ribuan anggota TP PKK se-Sumenep menghadiri acara peringatan Hari Ibu bersama Ketua Banggar DPR RI MH Said Abdullah di Islamic Center Bindara Saod Sumenep, Jumat (22/12). (MOH. BUSRI/JPRM)
PENUH: Ribuan anggota TP PKK se-Sumenep menghadiri acara peringatan Hari Ibu bersama Ketua Banggar DPR RI MH Said Abdullah di Islamic Center Bindara Saod Sumenep, Jumat (22/12). (MOH. BUSRI/JPRM)
Photo
Photo
Editor : Nindia Aprilia
#ciri khas #keunikan #tari gambyong #surakarta