Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Mengenal Julukan Kaum Abangan yang Berkembang di Masyarakat Jawa

Reinaldo Suryo Negoro • Rabu, 17 April 2024 | 01:23 WIB
Ilustrasi umat Islam di Jawa. (Pramono Estu/ JAWAPOS.COM)
Ilustrasi umat Islam di Jawa. (Pramono Estu/ JAWAPOS.COM)

SOLOBAPALAN.COM – Dalam keyakinan masyarakat Jawa, pluralisme dan harmoni merupakan dua unsur pilar yang tidak terpisahkan.

Pluralisme menggambarkan damai dengan perbedaan, sementara harmoni menciptakan lingkungan saling menghargai terhadap keberagaman.

Menurut Geertz dalam bukunya yang berjudul “Agama Jawa”. Santri, abangan, dan priyayi, meskipun memiliki perbedaan sifat serta perilaku, mereka tetap saling melengkapi dalam konteks masyarakat Jawa.

Santri memberikan kontribusi vital dalam menjaga dan mengembangkan ajaran Islam.

Abangan berperan dalam pelestarian nilai-nilai tradisional. Sedangkan, priyayi membantu menjaga keberlanjutan adat istiadat Jawa.

Sebagai bagian dari muslim Jawa, abangan ditempatkan oleh Geertz menjadi kelompok masyarakat yang kurang memiliki pengetahuan tentang ajaran agama.

Bahkan, bisa dianggap sebagai muslim awam yang berasal dari desa.

Beberapa kelompok keagamaan dalam tradisi masyarakat Jawa termasuk islam abangan, memiliki kecenderungan masyarakat yang mengaku sebagai muslim tetapi tidak konsisten dalam menjalankan perintah agama-Nya.

Tidak konsisten dalam menjalankan agama Islam bukan berarti tidak paham akan ajarannya, malainkan lebih karena kaum abangan masih percaya akan tradisi – tradisi lokal yang sudah berkembang sejak lama.

Memiliki keturunan Muslim dari kedua orang tua, kaum muslim abangan memilih untuk tidak terang-terangan dalam menyebut dirinya muslim.

Dahulu di era kolonial, perilaku kaum muslim abangan merepresentasikan sebagai kelompok tani yang kurang memperhatikan doktrin islam secara mapan.

Mereka lebih mengedepankan kepercayaan lokal berupa klenik yang berbau mistis, sehingga memberikan kesan umum di masyarakat sebagai kaum muslim yang kurang taat terhadap agama.

“Puasa gini ya ikut, puasa senin kamis iya, puasa weton pasti, yang membedakan hanya aku nggak ikut sholat," ujar SE salah satu mahasiswa Muslim abangan yang berasal dari Banyuwangi Jawa Timur,

"Untuk masalah ajaran ya tetep sama, syahadat, zakat, berbuat baik, tapi bedanya itu tadi (tidak melaksanakan sholat),” terangnya saat bulan puasa lalu.

Peta wilayah muslim abangan tersebar di kawasan pedesaan dan pegunungan yang banyak dari warga nya adalah petani.

Dengan tradisi kehidupan yang sederhana dan kepercayaan magis terhadap suatu hal, kaum muslim abangan dipandang sebagai ancaman masa depan Islam Nusantara.

Perilaku kaum muslim abangan juga tidak lepas dari pengeruh animisme dan dinamisme dari nenek moyang sejak dulu.

“Di daerahku banyak, justru kayak terbelah. Jadi semisal ada dua wilayah barat dan timur, nanti salah satu wilayah itu pasti mayoritas abangan dan satunya mayoritas putihan," imbuh SE.

"Bisa dibilang memang udah turun temurun, kalau ada yang sholat pun silakan itu pun jauh lebih baik kalau engga ya terserah,” imbuhnya. (mg1/rei)

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#muslim #jawa #abangan #islam