SOLOBALAPAN.COM - Kabar meninggalnya Prichard Colon pada usia 33 tahun kembali membuat kisahnya ramai diperbincangkan.
Bukan hanya karena ia pernah menjadi petinju muda yang menjanjikan, tetapi karena selama hampir 11 tahun terakhir, namanya terus hidup dalam ingatan publik melalui kabar mengenai kondisi dirinya setelah mengalami cedera otak parah dalam sebuah pertandingan pada 2015.
Baca Juga: Jalani Medical Check-Up di Amerika Serikat, SBY Melukis Keindahan Sungai Mississippi
Kabar kepergian Colon telah dikonfirmasi melalui akun media sosialnya yang mengunggah pesan “Rest in Peace”. Unggahan tersebut kemudian dipenuhi berbagai reaksi.
Banyak orang menyampaikan belasungkawa dan mendoakan Colon, sementara sebagian lainnya mengaku tidak percaya bahwa petinju asal Puerto Rico itu akhirnya benar-benar pergi.
Ada pula warganet yang merasa kehilangan karena selama bertahun-tahun masih menyimpan harapan terhadap kesembuhannya.
“I thought he was getting better,” tulis seorang pengguna media sosial.
Komentar lain menunjukkan perasaan serupa. “I really hoped that he would recover from the injury,” tulis warganet lainnya.
Dua komentar tersebut menarik karena menunjukkan bahwa bagi sebagian orang, Colon bukan sekadar nama yang muncul kembali ketika kabar kematiannya diberitakan. Ada orang-orang yang mengikuti kisahnya selama bertahun-tahun dan masih menyimpan harapan bahwa kondisinya suatu hari akan membaik.
Harapan tersebut berawal dari sebuah malam pada Oktober 2015.
Saat itu, Colon baru berusia 23 tahun dan sedang membangun karier profesionalnya. Ia belum pernah kalah dalam 16 pertandingan dengan 13 kemenangan melalui knockout. Masa depannya di dunia tinju terlihat menjanjikan, sampai pertandingan melawan Terrel Williams di Fairfax, Virginia, berakhir dengan cedera yang mengubah kehidupannya.
Baca Juga: Inara Rusli Kembali Pakai Cadar, Bukan Soal Terlihat Sempurna tapi Tentang “Kembali”
Colon mengalami pukulan ilegal di bagian belakang kepala dalam pertandingan tersebut. Setelah pertandingan, kondisinya memburuk dan ia kemudian dibawa ke rumah sakit.
Ia didiagnosis mengalami hematoma subdural dan harus menjalani operasi. Setelahnya, Colon mengalami koma selama 221 hari dan mengalami kerusakan otak berat.
Sejak saat itu, kehidupan Colon tidak lagi seperti sebelumnya.
Ia tidak kembali ke atas ring. Karier yang sedang dibangun berhenti begitu saja, sementara keluarganya harus menjalani kehidupan baru dengan merawat Colón. Selama bertahun-tahun, berbagai kabar mengenai kondisinya tetap menjadi perhatian orang-orang yang mengenal kisahnya.
Ada sesuatu yang mungkin tidak terlihat dalam berita mengenai Colon selama ini: harapan publik ternyata bertahan jauh lebih lama daripada karier tinjunya.
Setiap perkembangan mengenai kondisinya dapat kembali membuat orang berharap. Foto atau video terbaru yang memperlihatkan Colon dalam kondisi tertentu bisa menjadi alasan bagi sebagian orang untuk berpikir bahwa masih ada kemungkinan pemulihan. Karena itu, ketika kabar kematiannya muncul, reaksi terkejut dari para pengikutnya terasa sangat manusiawi.
Bukan berarti Colon sebelumnya telah dinyatakan pulih. Kondisinya tetap mengalami dampak neurologis berat akibat cedera tersebut. Namun, bagi orang-orang yang selama bertahun-tahun mengikuti kisahnya, harapan untuk melihatnya membaik mungkin tidak pernah benar-benar hilang.
Baca Juga: Dari Mana Para Pejuang Mendapatkan Senjata setelah Proklamasi? Ini Jawabannya
Itulah yang membuat kabar ini terasa berbeda. Colon bukan hanya seorang petinju yang kehilangan karier karena cedera.
Ia adalah seseorang yang selama hampir 11 tahun menjadi simbol perjuangan untuk bertahan setelah sebuah pertandingan mengubah seluruh hidupnya.
Pada akhirnya, perjuangan itu berakhir pada 13 Agustus 2026. Ucapan belasungkawa pun berdatangan. Orang-orang yang bahkan mungkin tidak pernah mengenal Colon secara langsung ikut menuliskan Rest in peace, mengenang perjuangannya, dan mengaku sedih karena harapan yang mereka simpan selama bertahun-tahun akhirnya harus dilepaskan. (Rasri Rafiarum)
Editor : Kabun Triyatno