Keringat Bernilai Prestige: Ketika Olahraga Menentukan Status Sosial

Ferry Ardi Susanto • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 13:35 WIB
Olahrga yang menjadi pilihan. (AI Generated)
Sederet olahraga kaum "have" seperti golf, tenis, padel, dan pilates. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Setiap pagi atau Sore hari di sebuah kawasan elite kota besar.

Puluhan orang datang mengenakan pakaian olahraga dari merek ternama.

Ada yang menenteng raket padel seharga jutaan rupiah, sebagian lain membawa stik golf dengan tas eksklusif, sementara yang lain baru saja menyelesaikan kelas pilates di studio premium.

Mereka memang sedang berolahraga, tetapi ada hal lain yang ikut dipertontonkan: gaya hidup.

Baca Juga: On This Day: 10 Kejadian Penting Di Tanggal 8 Agustus, Lahirnya ASEAN Hingga Foto Ikonik The Beatles

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat, olahraga kini perlahan mengalami pergeseran makna.

Ia bukan lagi semata aktivitas menjaga kebugaran, melainkan juga menjadi simbol identitas, selera, bahkan kelas sosial.

Fenomena ini semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir.

Olahraga seperti golf, tenis, padel, hingga pilates mengalami lonjakan popularitas, terutama di kalangan masyarakat perkotaan.

Kehadirannya tidak hanya didorong oleh manfaat kesehatan, tetapi juga oleh citra eksklusif yang melekat pada masing-masing cabang olahraga.

Biaya keanggotaan, harga perlengkapan, hingga lokasi fasilitas yang umumnya berada di kawasan premium membuat olahraga tersebut identik dengan kelompok masyarakat tertentu.

Tidak sedikit yang kemudian memandangnya sebagai representasi gaya hidup modern yang prestisius.

Media sosial menjadi salah satu panggung utama yang memperkuat persepsi tersebut.

Unggahan bermain golf saat matahari terbit, pertandingan padel bersama rekan bisnis, atau sesi pilates di studio berdesain minimalis sering kali dibingkai dengan visual yang estetik.

Aktivitas olahraga tidak lagi berhenti di lapangan atau ruang latihan, melainkan berlanjut ke layar ponsel dalam bentuk konten yang mengundang perhatian.

Tanpa disadari, olahraga berubah menjadi bagian dari personal branding.

Apa yang dimainkan, di mana melakukannya, bahkan pakaian yang dikenakan ikut membentuk citra seseorang di ruang digital.

Baca Juga: Isyarat Haldy Sabri Bikin Warganet Menebak, Irish Bella Akhirnya Umumkan Kehamilan Anak Pertama Mereka

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep conspicuous consumption yang diperkenalkan ekonom dan sosiolog Thorstein Veblen.

Dalam teorinya, sebagian orang mengonsumsi barang atau aktivitas tertentu bukan semata karena fungsi, tetapi juga untuk menunjukkan status sosial dan memperoleh pengakuan dari lingkungan.

Dalam konteks olahraga, pilihan terhadap cabang tertentu terkadang tidak hanya didorong oleh kebutuhan menjaga kesehatan, melainkan juga oleh nilai simbolik yang melekat padanya.

Ketika olahraga menjadi bagian dari citra diri, batas antara kebutuhan dan gengsi mulai semakin kabur.

Namun, mengaitkan olahraga mahal semata-mata dengan pencitraan tentu tidak sepenuhnya adil.

Banyak orang memilih golf, tenis, padel, atau pilates karena memang menikmati tantangan, manfaat kesehatan, maupun kesempatan membangun relasi sosial.

Bagi sebagian profesional, lapangan golf bahkan menjadi ruang untuk berdiskusi bisnis.

Komunitas padel dan tenis membuka peluang memperluas jaringan pertemanan, sedangkan pilates diminati karena membantu memperbaiki postur tubuh dan fleksibilitas.

Artinya, ada nilai nyata yang memang ditawarkan olahraga-olahraga tersebut di luar citra eksklusif yang melekat.

Baca Juga: On This Day: 10 Kejadian Penting Di Tanggal 7 Agustus, Hari Lahir Kota Padang Hingga Berdirinya AJI

Meski begitu, tren ini juga memunculkan persoalan baru.

Ketika media sosial terus menampilkan olahraga premium sebagai simbol gaya hidup ideal, sebagian masyarakat mulai merasa bahwa hidup sehat identik dengan biaya yang mahal.

Padahal, berjalan kaki, bersepeda, jogging, senam di ruang terbuka, atau bermain bulu tangkis di lapangan umum tetap memberikan manfaat besar bagi kesehatan.

Ironisnya, olahraga yang paling mudah diakses justru kerap dianggap kurang menarik karena tidak menawarkan nilai prestise yang sama di ruang digital.

Fenomena ini menunjukkan bahwa olahraga kini tidak lagi dipandang semata sebagai aktivitas untuk menjaga kebugaran.

Di tengah berkembangnya budaya media sosial, pilihan jenis olahraga sering kali ikut membentuk cara seseorang dipersepsikan oleh lingkungan sekitarnya.

Bermain golf, mengikuti kelas pilates, atau rutin berlatih padel dan tenis kerap diasosiasikan dengan gaya hidup modern, mapan, dan produktif.

Persepsi tersebut kemudian berkembang menjadi standar baru yang secara tidak langsung memengaruhi pilihan masyarakat dalam berolahraga.

Akibatnya, tidak sedikit orang tertarik mencoba olahraga tertentu bukan hanya karena manfaatnya bagi kesehatan, tetapi juga karena citra dan pengalaman sosial yang ditawarkan.

Baca Juga: Attar Syach dan Ananda Lontoh Selalu Berhasil Bikin Gemas, Tingkah Kocak Keluarga Ini Jadi Hiburan Warganet

Pada akhirnya, meningkatnya minat terhadap olahraga premium bukanlah persoalan yang perlu dipandang negatif.

Yang patut dikritisi adalah ketika olahraga kehilangan tujuan utamanya sebagai sarana menjaga kesehatan dan justru berubah menjadi alat untuk mengukur status sosial.

Tubuh yang sehat seharusnya tidak ditentukan oleh mahalnya biaya keanggotaan atau harga perlengkapan olahraga.

Sebab, esensi olahraga bukan terletak pada seberapa eksklusif lapangan tempat seseorang berkeringat, melainkan pada konsistensi menjaga kesehatan.

Di era ketika citra begitu mudah dibangun melalui media sosial, mungkin tantangan terbesar bukan mencari olahraga yang paling bergengsi, tetapi memastikan bahwa setiap langkah, ayunan raket, atau gerakan tubuh benar-benar dilakukan untuk diri sendiri, bukan demi pengakuan orang lain. (siti putri lestari)

Editor : Ferry Ardi Susanto
Golf orang have kesenjangan olahraga padel