Healing Tak Lagi Sekadar Liburan, Gen Z Kini Berburu Adrenalin Lewat Arung Jeram

Siti Putri Lestari • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 09:00 WIB
Ilustrasi kegiatan Olahraga Arung Jeram. (Narasumber Cilla)
Ilustrasi kegiatan wahana arung jeram. (Dok. Cilla Nafisah)

SOLOBALAPAN.COM - Dulu, istilah healing identik dengan duduk santai di tepi pantai, menikmati secangkir kopi di pegunungan, atau menghabiskan waktu di tempat-tempat yang tenang.

Namun, pola itu mulai bergeser.

Di kalangan Generasi Z, konsep memulihkan diri kini tidak selalu identik dengan ketenangan.

Sebaliknya, semakin banyak anak muda yang memilih aktivitas penuh tantangan seperti arung jeram (rafting), panjat tebing, canyoning, hingga off-road sebagai cara melepas penat dari rutinitas yang melelahkan.

Perubahan ini bukan sekadar mengikuti tren media sosial.

Baca Juga: On This Day: 10 Kejadian Penting Di Tanggal 6 Agustus, Ada Tragedi Hiroshima Dan Lahirnya World Wide Web

Banyak anak muda mengaku justru menemukan ketenangan setelah menghadapi situasi yang memacu adrenalin.

Saat mengarungi derasnya arus sungai, perhatian mereka terpusat sepenuhnya pada kondisi di depan mata.

Tidak ada ruang untuk memikirkan tugas kuliah, target pekerjaan, atau tekanan kehidupan digital yang selama ini memenuhi pikiran.

Dalam beberapa jam, mereka benar-benar hadir pada momen yang sedang dijalani.

Fenomena tersebut memperlihatkan perubahan cara Gen Z memaknai healing. Jika sebelumnya pemulihan identik dengan menghindari tekanan, kini sebagian anak muda justru memilih menghadapi tantangan yang terukur.

Aktivitas seperti rafting memerlukan kerja sama tim, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan mengendalikan rasa takut. Setelah berhasil melewati jeram demi jeram, muncul perasaan puas yang sulit diperoleh dari aktivitas rekreasi biasa.

Baca Juga: Kenapa Photocard K-Pop Bisa Bernilai Jutaan Rupiah? Ini Penjelasannya

Pengalaman tersebut juga dirasakan oleh Cilla Nafisah, seorang mahasiswi yang menjadikan arung jeram sebagai salah satu cara untuk melepas penat setelah menjalani aktivitas perkuliahan.

Baginya, berada di alam terbuka memberikan suasana yang berbeda dibandingkan hanya berdiam diri di rumah atau pergi ke tempat wisata yang tenang.

"Kalau aku pribadi lebih suka ke alam. Kalau lagi suntuk sama tugas kuliah, setiap orang kan punya caranya masing-masing buat healing," ujar mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo ini.

"Nah, aku lebih sering mencoba rafting karena menurutku ini kegiatan yang seru. Kita bisa teriak-teriak, ketawa bareng teman-teman, sekaligus menguji adrenalin, apalagi kalau arus sungainya lagi deras. Rasanya setelah selesai jadi lebih lega dan pikiran lebih ringan," imbuhnya.

Pengalaman Cilla menggambarkan bahwa bagi sebagian Gen Z, aktivitas ekstrem bukan sekadar mencari sensasi.

Di balik derasnya arus sungai, mereka menemukan ruang untuk melepaskan emosi yang selama ini terpendam akibat padatnya aktivitas akademik maupun tekanan kehidupan sehari-hari.

Berteriak, tertawa, dan bekerja sama mengendalikan perahu menjadi bentuk pelepasan stres yang dianggap lebih efektif dibandingkan sekadar beristirahat.

Secara psikologis, pengalaman tersebut dapat dijelaskan melalui munculnya kondisi flow, yaitu keadaan ketika seseorang sangat fokus terhadap aktivitas yang dilakukan hingga melupakan tekanan dari luar.

Kondisi ini sering muncul pada olahraga yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Penelitian mengenai budaya self-healing pada Generasi Z juga menunjukkan bahwa aktivitas olahraga menjadi salah satu strategi yang banyak dipilih untuk mengelola stres sekaligus meningkatkan kesejahteraan psikologis.

Baca Juga: Kenapa Setiap HUT RI Selalu Ada Balap Karung? Ini Sejarah yang Jarang Diketahui

Selain itu, olahraga ekstrem turut memicu pelepasan hormon endorfin dan adrenalin.

Kombinasi keduanya mampu memberikan rasa senang, meningkatkan semangat, serta memperkuat rasa percaya diri setelah berhasil melewati tantangan.

Tidak heran jika banyak anak muda merasa pulang dengan kondisi mental yang lebih segar setelah mengikuti kegiatan seperti arung jeram.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa healing tidak boleh dimaknai sebagai pelarian semata.

Aktivitas yang menyenangkan memang dapat membantu meredakan stres, tetapi penyelesaian masalah tetap membutuhkan refleksi diri dan kemampuan menghadapi persoalan yang sebenarnya.

Oleh karena itu, olahraga ekstrem sebaiknya dipandang sebagai salah satu sarana menjaga kesehatan mental, bukan sebagai solusi tunggal.

Baca Juga: Rizky Billar Jadi Korban Penggelapan Rp 3,1 Miliar, Pelaku Diduga Kongkalikong dengan Owner Brand

Fenomena ini sekaligus membuka peluang bagi sektor wisata petualangan di Indonesia.

Destinasi arung jeram di berbagai daerah kini semakin diminati oleh wisatawan muda yang ingin memperoleh pengalaman berbeda.

Mereka datang bukan hanya untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga mencari tantangan yang mampu memberikan pengalaman emosional dan membangun rasa percaya diri.

Pada akhirnya, cara Generasi Z memaknai healing terus berkembang.

Jika dahulu ketenangan dicari melalui suasana yang sunyi, kini sebagian anak muda justru menemukannya di tengah derasnya arus sungai.

Bagi mereka, memulihkan diri bukan hanya tentang beristirahat, tetapi juga tentang menantang diri sendiri, mengelola rasa takut, dan kembali dengan semangat yang lebih besar untuk menghadapi rutinitas. (siti putri)

Editor : Ferry Ardi Susanto
Rafting Olahraga Ekstrem healing arung jeram Gen Z