SOLOBALAPAN.COM - Awal musim MotoGP 2026 menghadirkan kejutan besar.
Tim pabrikan Ducati yang sebelumnya begitu dominan, kini justru menghadapi tekanan serius.
Bahkan, nama besar seperti Marc Marquez ikut terseret dalam situasi sulit yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dalam tiga seri awal, performa Ducati terlihat menurun drastis.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah era kejayaan Borgo Panigale benar-benar mulai runtuh?
Baca Juga: Nyaris Sempurna Tapi Diselingkuhi! Wardatina Mawa hingga Lisa Mariana Pasang Badan buat Clara Shinta
Ducati Kehilangan Taji di Awal Musim
Dominasi Ducati yang begitu kuat sejak 2023 hingga 2025 kini mulai luntur.
Setelah tiga balapan berjalan, fakta mencolok muncul—tidak ada satu pun kemenangan di balapan utama (full race).
Aprilia justru tampil sebagai kekuatan baru.
Marco Bezzecchi bahkan konsisten meraih kemenangan, sementara Ducati kesulitan menembus podium.
Situasi ini memperlihatkan penurunan signifikan dari tim asal Italia tersebut.
Bahkan dalam klasemen sementara, tidak ada pembalap Ducati yang mampu menembus tiga besar.
Marc Marquez dalam Tekanan Besar
Sorotan tajam kini tertuju pada Marc Marquez. Pembalap yang sebelumnya nyaris tak tersentuh, kini harus berjuang keras di lintasan.
Ia bahkan tertahan di posisi kelima klasemen dan tertinggal cukup jauh dari rivalnya.
Selain faktor teknis motor, kondisi fisik juga menjadi kendala serius.
"Masalah terbesar adalah pembalap bintang, Marc Marquez yang terkuat dari semuanya, tetapi hari ini dengan masalah fisik yang jelas," ucap Pernatt.
Cedera bahu yang dialami sebelumnya disebut masih memengaruhi performanya di lintasan.
Hal ini diperparah dengan motor Ducati 2026 yang belum menunjukkan peningkatan signifikan.
Kritik Pengembangan Motor Ducati
Masalah Ducati tidak hanya datang dari pembalap. Pengembangan motor juga menjadi sorotan tajam.
Banyak pihak menilai Ducati telah mencapai titik jenuh sejak performa puncaknya pada 2024.
Tidak ada inovasi besar yang membuat motor mereka lebih kompetitif di musim ini.
"Marc Marquez selalu menang pada GP Amerika, kecuali tahun lalu ketika ia mengalami kecelakaan di Austin," kata pengamat MotoGP, Carlo Pernat.
"Sebuah trek di mana Ducati, di kandang sendiri, selalu mendominasi. Namun kali ini Aprilia datang pada balapan ketiga musim ini, dan meraih posisi pertama dan kedua."
Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa peta persaingan MotoGP telah berubah.
Aprilia Bangkit, Ducati Tertekan
Keberhasilan Aprilia bukan kebetulan. Tim tersebut dinilai mengalami perkembangan pesat dari sisi teknis maupun strategi.
“Bezzecchi tampil luar biasa. Marco yang percaya diri, menyadari bahwa motornya dibangun bersama tim. Dan ketika ada ketenangan dan kegembiraan dalam sebuah tim, hasilnya akan mengikuti," jelas Pernat.
"Anda bisa merasakan atmosfernya, Anda bisa melihat bahwa semuanya berjalan dengan baik dan kemudian ada Martin yang telah terlahir kembali. Tidak ada yang menyangka comeback yang begitu cepat dan kompetitif. Ini berarti Aprilia benar-benar kuat,” sambungnya.
Dominasi baru ini membuat Ducati semakin tertekan, terutama karena mereka belum menemukan solusi yang tepat.
Harapan Ducati di Seri Eropa
Meski situasi sulit, Ducati masih memiliki peluang untuk bangkit. Seri Eropa yang akan dimulai di Jerez menjadi momen krusial.
Tim teknis yang dipimpin Gigi Dall’Igna diharapkan mampu menemukan solusi dalam waktu singkat.
Jeda beberapa minggu sebelum balapan berikutnya menjadi kesempatan emas untuk evaluasi besar-besaran.
Namun, tantangan tetap berat. Ducati harus memperbaiki performa motor sekaligus mengembalikan kepercayaan diri pembalap.
Jika gagal, bukan tidak mungkin dominasi Ducati benar-benar berakhir musim ini.
Dengan tekanan yang terus meningkat, MotoGP 2026 menjadi ujian besar bagi Ducati dan Marc Marquez.
Akankah mereka bangkit, atau justru semakin tenggelam di tengah kebangkitan Aprilia? Publik kini menunggu jawabannya di seri-seri berikutnya. (lz)
Editor : Laila Zakiya