SOLOBALAPAN.COM – Konflik berkepanjangan antara Palestina dan Israel kembali menyeret dunia sepak bola internasional.
Menjelang kualifikasi Piala Dunia 2026, Asosiasi Pelatih Sepak Bola Italia (AIAC) mendesak UEFA dan FIFA untuk mencoret Israel dari seluruh kompetisi resmi.
Dilansir dari OneFootball, AIAC melayangkan surat resmi kepada Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Gabriele Gravina.
Desakan ini dipimpin langsung oleh Presiden AIAC, Renzo Ulivieri.
"Ini bukan hanya tindakan simbolis, tetapi sebuah pilihan yang perlu diambil, merespons imperatif moral, dan didukung oleh seluruh direksi," tegas Ulivieri.
Nada serupa juga disampaikan Wakil Presiden AIAC, Giancarlo Camolese. Ia menilai sepak bola tidak bisa bersikap apatis terhadap situasi kemanusiaan yang terjadi.
"Mungkin orang ingin kita diam dan hanya bermain bola, tapi kami tidak percaya itu benar," ujarnya.
Sementara itu, Wakil Presiden lainnya, Francesco Perondi, menyebut desakan ini murni karena rasa kemanusiaan.
"Dunia sedang terbakar. Banyak orang, termasuk rakyat Palestina, yang menderita. Ketidakpedulian adalah hal yang tidak dapat diterima," jelasnya.
Desakan AIAC muncul jelang laga kualifikasi Piala Dunia 2026 antara Italia dan Israel pada 8 September 2025.
Sebelumnya, kedua tim sudah bertemu pada Oktober 2024 dan Italia berhasil meraih kemenangan.
Kondisi di Gaza sendiri dilaporkan kian memanas. PBB bahkan memperingatkan ancaman kelaparan akibat blokade bantuan yang semakin parah.
Gerakan solidaritas terhadap Palestina di dunia sepak bola juga semakin meluas.
Sejumlah bintang seperti William Saliba, Ousmane Dembele, Joao Cancelo, hingga Marcus Thuram telah menyuarakan dukungan mereka melalui media sosial.
Tak hanya itu, Mohamed Salah juga ikut menyedot perhatian publik. Bintang asal Mesir tersebut mengkritik UEFA melalui platform X setelah organisasi itu mengabarkan kematian pemain Palestina, Suleiman al-Obeid, tanpa penjelasan detail.
"Bisa kamu beritahu kami bagaimana, di mana, dan kenapa dia meninggal?" tulis Salah pada 9 Agustus 2025.
Hingga 20 Agustus 2025, cuitan tersebut telah ditonton lebih dari 117 juta kali dan memicu gelombang protes luas terhadap sikap UEFA. (dam)
Editor : Damianus Bram