SOLOBALAPAN.COM - Skuad Timnas Indonesia U-17 yang akan berlaga di Piala Kemerdekaan 2025 di Medan memiliki nuansa internasional yang kental.
Pelatih Nova Arianto telah memanggil 30 pemain, empat di antaranya adalah pemain keturunan atau diaspora yang menimba ilmu sepak bola di luar negeri.
Kehadiran mereka diharapkan mampu menambah kekuatan dan variasi permainan Garuda Muda sebagai persiapan akhir jelang Piala Dunia U-17 2025.
Berikut adalah profil singkat keempat pemain tersebut.
1. Matthew Baker
-
Posisi: Bek Tengah, Bek Kiri, Gelandang Bertahan
-
Lahir: Australia, 13 Mei 2009 (Usia 16 tahun)
-
Klub Saat Ini: Melbourne City (Australia)
-
Latar Belakang: Memiliki ayah dari Australia dan ibu berdarah Indonesia (Batak, marga Sitorus). Baker dikenal dengan versatilitasnya yang bisa bermain di beberapa posisi.
2. Eizar Jacob
-
Posisi: Gelandang Bertahan, Bek Sayap
-
Lahir: Australia, 2008 (Usia 17 tahun)
-
Klub Saat Ini: Sydney FC (Australia)
-
Latar Belakang: Lahir dan besar di Australia dari ayah berdarah Padang dan ibu asal Cianjur. Ia merupakan produk dari salah satu akademi terbaik di Australia.
3. Noha Pohan
-
Posisi: Gelandang Serang, Gelandang Bertahan
-
Lahir: Jakarta, 12 Maret 2010 (Usia 15 tahun)
-
Klub Saat Ini: NAC Breda U-15 (Belanda)
-
Latar Belakang: Memiliki ayah berdarah Batak dan ibu dari Finlandia. Noha Pohan sebelumnya sempat mendapat panggilan dari Timnas Finlandia U-15, namun ia mantap memilih untuk membela Indonesia.
4. Aaron Liam Suitela
-
Posisi: Penyerang, Winger, Gelandang Serang
-
Lahir: Australia, 3 Juni 2007 (Usia 18 tahun)
-
Klub Saat Ini: Bullen Lions FC (Australia)
-
Latar Belakang: Ayahnya berasal dari Sumedang, Jawa Barat, sementara ibunya berasal dari Turki. Aaron diharapkan bisa menambah daya gedor di lini depan Garuda Muda.
Amunisi Tambahan dari Luar Negeri
Kehadiran empat pemain diaspora ini menunjukkan keberhasilan PSSI dalam menjaring talenta-talenta berdarah Indonesia di seluruh dunia.
Mereka tidak hanya membawa kualitas teknis dari sistem pembinaan di Australia dan Belanda, tetapi juga postur tubuh dan gaya bermain yang berbeda.
Kombinasi ini diharapkan dapat menjadi amunisi tambahan yang krusial bagi Timnas U-17 dalam persaingan di Piala Kemerdekaan dan, puncaknya, di Piala Dunia U-17. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo