Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

PSIM Yogyakarta Terpaksa Hijrah dari Mandala Krida, Ini Alasan Laskar Mataram Harus Mengungsi di Liga 1

Mannisa Elfira • Minggu, 15 Juni 2025 | 00:47 WIB
Ilustrasi - Selebrasi penuh euforia, PSIM juara Liga 2 2024-2025.
Ilustrasi - Selebrasi penuh euforia, PSIM juara Liga 2 2024-2025.

SOLOBALAPAN.COM - Setelah resmi promosi ke Liga 1, PSIM Yogyakarta langsung menunjukkan keseriusannya dalam menghadapi persaingan di kasta tertinggi sepak bola nasional.

Rival abadi Persis Solo ini menyatakan komitmen penuh untuk tak hanya sekadar bertahan, tapi juga berkontribusi bagi pengembangan sepak bola di wilayah Yogyakarta.

Namun, langkah PSIM menuju Liga 1 tidak sepenuhnya mulus.

Mereka menghadapi kendala utama terkait stadion kandang, yang belum memenuhi standar yang ditetapkan oleh operator kompetisi dan PSSI.

Dilansir dari laman Liga Indonesia Baru (LIB), manajemen PSIM tengah aktif melakukan audiensi dengan sejumlah pihak, termasuk Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo.

Dalam pertemuan tersebut, Direktur Utama PSIM, Yuliana Tasno, memaparkan tiga isu utama yang menjadi fokus utama klub dalam menyongsong Liga 1.

1. Venue Sementara untuk Pertandingan Liga 1

Menurut Liana, standar kompetisi Liga 1 jauh lebih tinggi dibandingkan Liga 2, khususnya dalam hal fasilitas stadion.

Persyaratan seperti pencahayaan yang layak untuk siaran langsung hingga penggunaan single seat menjadi hambatan utama.

“Ada persyaratan ketat dari PSSI yang harus dipenuhi, seperti kualitas pencahayaan yang memadai serta penerapan tempat duduk tunggal. Stadion Mandala Krida dan Sultan Agung Bantul belum bisa memenuhi karena lampu dan kursi penonton,” ungkap Liana.

2. Pengembangan Jangka Panjang Mandala Krida

Meski belum bisa dipakai secara optimal saat ini, PSIM tetap berharap Stadion Mandala Krida bisa menjadi opsi utama di masa depan.

Pengembangan stadion tersebut masuk dalam rencana jangka panjang klub bersama pemerintah daerah.

3. Minimnya Fasilitas Latihan

Selain stadion utama, lapangan latihan juga menjadi masalah klasik bagi PSIM. Sejak Liga 2, klub kesulitan mendapatkan lapangan latihan yang memadai.

Akibatnya, tim harus berlatih secara nomaden dan menyewa lapangan seadanya.

“Kami latihan di mana pun yang tersedia. Kalau ada lapangan kosong, kami sewa, lalu latihan di sana. Ini masalah lama yang perlu solusi permanen,” tegas Liana.

Dukungan Pemerintah dan Lokasi Sementara

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyatakan dukungan penuh terhadap PSIM.

Ia juga mendorong klub untuk mengikuti arahan Gubernur DIY terkait solusi jangka pendek.

Dalam audiensi sebelumnya, Sri Sultan HB X mengizinkan PSIM menggunakan Stadion Maguwoharjo sebagai homebase sementara, sembari menunjuk Stadion Kridosono sebagai tempat latihan eksklusif tim.

Promosi Butuh Adaptasi, Tapi PSIM Siap Melangkah

Naiknya PSIM ke Liga 1 bukan sekadar soal prestasi di lapangan, tapi juga kesiapan infrastruktur dan organisasi.

Dengan komitmen kuat dari manajemen dan dukungan pemerintah daerah, kendala stadion dan fasilitas latihan diharapkan segera teratasi.

Ini menjadi momentum penting bagi Laskar Mataram untuk tidak hanya kembali ke papan atas, tapi juga membangun fondasi yang kokoh demi masa depan sepak bola Yogyakarta yang lebih profesional.

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#psim yogyakarta #liga 1 #hijrah #Mandala Krida #laskar mataram #mengungsi