SOLOBALAPAN.COM - Dunia sepak bola Indonesia kembali dihebohkan dengan perubahan identitas klub secara masif pasca Kongres PSSI 2025 pada Rabu malam (4/6).
Dalam kongres itu, empat klub resmi berganti nama, kepemilikan, dan domisili, menegaskan satu hal: sepak bola Indonesia makin mirip bisnis waralaba, bukan soal loyalitas daerah lagi.
Daftar Korban Klub-Klub yang 'Hijrah':
Persikas Subang → Sumsel United
Akhirnya resmi. Klub asal Subang ini diakuisisi oleh Wakil Gubernur Sumatera Selatan, Cik Ujang, untuk menjadi basis klub Sumsel United.
Ironisnya, Persikas belum lama ini jadi sorotan usai 21 suporternya diamankan karena protes keras ke Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
PSKC Cimahi → Garudayaksa FC
Klub ini kini diambil alih oleh akademi milik Presiden RI Prabowo Subianto, Garudayaksa.
Nama PSKC yang nyaris promosi ke Liga 1 kini berubah jadi Garudayaksa FC, meskipun belum jelas markas barunya: masih di Cimahi atau akan “ngantor” di Bekasi bareng akademi pusat.
Sumut United → Persikad Depok
Sumatera Utara ditinggal satu klub lagi. Sumut United resmi diakuisisi dan bakal bertransformasi jadi Persikad Depok versi ketiga.
Versi pertama sudah berubah jadi Sulut United, dan versi kedua adalah Persikad 1999 yang mentok di Liga 4 Jabar.
Sementara itu, pemilik lama Arya Sinulingga menyebut dirinya mundur karena ingin fokus di federasi.
NZR Sumbersari → Persikutim Kutai Timur
Klub Malang ini kini resmi jadi milik Kutai Timur. Persikutim sebelumnya sempat “hilang” dari peredaran, dan kini comeback dengan cara mengakuisisi klub Liga 3. Strategi shortcut naik kasta?
Klub-Klub yang Pindah Domisili di Musim 2025/2026
Bukan cuma ganti nama, beberapa klub juga memindahkan markas:
-
Tornado FC → Pekanbaru ke Kendal
-
Dewa United → Tangsel ke Serang
-
Adhyaksa FC → Solo ke Serang
-
Bhayangkara FC → Bogor ke Lampung
-
RANS Nusantara → Pasuruan ke Kota Batu
Sepak Bola Jadi Bisnis? Realita Baru, Masalah Lama
Transformasi ini seakan menegaskan bahwa identitas klub di Indonesia lemah dan bisa dibeli.
Klub-klub pindah markas dan ganti nama seperti ganti kaos, dengan loyalitas suporter dan sejarah klub seolah tidak punya nilai.
Apakah sepak bola Indonesia siap dengan sistem "franchise" seperti di Amerika? Atau justru kehilangan jati diri karena semua bisa dibeli oleh elit politik dan pemilik modal?
Yang jelas, publik mulai resah. Klub seperti Persikas dan PSKC punya sejarah di kotanya masing-masing, namun kini dirombak total.
Bahkan, suporter lokal pun tak punya daya menolak. Jika ini dibiarkan terus, jangan salahkan publik jika akhirnya bilang:
“Sepak bola kita bukan milik rakyat lagi, tapi milik para pemodal.”
Daftar Lengkap Perubahan Identitas Klub Musim 2025/2026:
| Klub Lama | Klub Baru | Domisili Baru |
|---|---|---|
| Persikas Subang | Sumsel United | Sumatera Selatan |
| PSKC Cimahi | Garudayaksa FC | Belum jelas (Cimahi/Bekasi?) |
| Sumut United | Persikad Depok | Depok |
| NZR Sumbersari | Persikutim Kutim | Kutai Timur |
| Tornado FC | Tornado FC Kendal | Kendal |
| Dewa United | - | Serang |
| Adhyaksa FC | - | Serang |
| Bhayangkara FC | - | Lampung |
| RANS Nusantara | - | Kota Batu |
Suporter: “Klub Kami Bukan Properti Siapa-Siapa”
Publik sepak bola patut bertanya: di mana batasnya? Kalau ini dibiarkan, apakah masa depan klub-klub lain tinggal menunggu waktu untuk dijual dan dipindahkan seenaknya?
Boleh jadi nanti klub lokal kalian bukan lagi milik kota kalian. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo