SOLOBALAPAN.COM — Keputusan Komite Disiplin (Komdis) PSSI kembali memantik kontroversi.
Persebaya Surabaya dijatuhi denda Rp 200 juta atas penyalaan flare saat laga melawan Bali United, dan hukuman itu menuai kemarahan besar dari para Bonek.
Aksi menyalakan flare itu terjadi pada pertandingan pekan ke-34 Liga 1 2024/2025 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jumat (23/5/2025). Akibatnya, laga sempat terhenti.
Komdis PSSI menyatakan Persebaya melanggar Pasal 70 ayat 1 dan 2 serta Lampiran 1 nomor 5 Kode Disiplin PSSI Tahun 2023.
Denda dijatuhkan karena pelanggaran dianggap memiliki bukti kuat, dan peringatan diberikan bahwa pelanggaran serupa akan dikenai hukuman lebih berat di masa depan.
Bonek Geram: Lempar Batu Lebih Murah daripada Flare?
Yang bikin suasana panas adalah perbandingan dengan hukuman untuk Arema FC.
Klub asal Malang itu hanya dikenai denda Rp 20 juta dan satu laga tanpa penonton usai insiden pelemparan batu ke bus tim Persik Kediri. Padahal, aksi itu membahayakan nyawa pemain lawan.
Surat keputusan Komdis nomor 179/L1/SK/KD-PSSI/V/2025 tertanggal 15 Mei menyebut Panpel Arema FC melanggar Pasal 68 huruf (c) jo Pasal 69 ayat 1 dan 2.
Netizen Sindir PSSI: “Flare Lebih Bahaya dari Batu?”
Di media sosial, ribuan komentar bermunculan. Banyak suporter menyindir tajam keputusan Komdis PSSI.
“Wingi enek suportr tim sebelah nyawat watu ng bise pemain tim lawan. Sanski piro bos????,” tulis seorang Bonek.
“Ternyata flare lebih berbahaya dari batu,” sindir akun lainnya.
“@pssi mending lempar batu bus tim lawan ya kalau gituu...!!!!! LAWAK LUU...,” tulis akun suporter dengan nada kesal.
Beberapa juga menyebut penegakan disiplin di PSSI tidak konsisten, bahkan menyarankan reformasi menyeluruh.
Hingga kini belum ada respons resmi dari manajemen Persebaya. Namun publik mendesak klub untuk mengajukan banding, meski langkah itu tidak diyakini akan mengubah banyak hal jika standar hukuman tidak transparan.
Komdis PSSI kembali berada di bawah sorotan karena sejumlah keputusan sebelumnya juga dianggap tidak proporsional dan diskriminatif.
Bonek, salah satu basis suporter terbesar di Indonesia, menyuarakan kekecewaan dan kemarahan mendalam. Mereka merasa tidak dihargai oleh federasi.
Jika polemik ini tidak segera direspons dengan bijak dan transparan, atmosfer Liga 1 musim depan bisa memanas bukan karena pertandingan, tapi karena ketidakpuasan suporter. (dam)
Editor : Damianus Bram