Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

PSSI Dorong Liga 4 Jadi Jalur Pembinaan Pemain Muda Usia 17-23 Tahun, Kesempatan Regenerasi untuk Bersinar

Mannisa Elfira • Jumat, 30 Mei 2025 | 01:05 WIB

 

Persika Takluk Lawan Tri Brata Rafflesia FC.
Persika Takluk Lawan Tri Brata Rafflesia FC.

SOLOBALAPAN.COM - Liga 4 Nasional edisi perdana resmi ditutup, menandai lahirnya kompetisi kasta keempat dalam sistem sepak bola Indonesia.

Meski masih tergolong baru, Liga 4 langsung menunjukkan potensi besar sebagai wadah pembinaan bakat muda tanah air.

Cerminan dari semangat pembinaan ini terlihat dari banyaknya tim yang menurunkan pemain-pemain dengan usia paling muda sesuai regulasi.

Berdasarkan ketentuan PSSI, pemain yang boleh berlaga di Liga 4 merupakan kelahiran 2002 hingga 2006.

Namun, menariknya, mayoritas tim justru lebih banyak mengandalkan pemain kelahiran 2006—yang artinya baru berusia 18 tahun.

“Di Liga 4 ini, meski statusnya amatir, kami memang mendorong pengembangan pemain muda.

Dari data yang kami terima, banyak tim memakai pemain kelahiran 2006. Itu artinya sekarang mereka berusia 18 tahun,” jelas anggota Exco PSSI, Muhammad, saat berbicara kepada awak media.

Lebih lanjut, Muhammad menyatakan bahwa PSSI tengah mengkaji kemungkinan mempersempit batas usia peserta musim depan, yakni dari usia 17 tahun hingga maksimal U-23.

Langkah ini bertujuan untuk memperkuat kesinambungan pembinaan sejak usia dini.

Sebagai bagian dari rantai pembinaan yang lebih terintegrasi, Muhammad menyebut keberadaan Piala Soeratin U-17 yang rutin digelar hingga tingkat nasional menjadi titik awal scouting yang lebih terstruktur.

Nantinya, para pemain muda dari ajang tersebut dapat dilanjutkan pembinaannya melalui Liga 4 maupun Liga 3.

“Dari Soeratin U-17, bisa kami lanjutkan ke Liga 4 dan Liga 3. Ini penting untuk menyambung jalur pembinaan,” tambahnya.

Evaluasi terhadap penyelenggaraan musim perdana juga menjadi pijakan untuk perbaikan ke depan.

Muhammad mengungkapkan bahwa Liga 4 musim depan akan menggunakan format kompetisi baru yang lebih kompetitif.

Proses kompetisi akan dimulai dari tingkat kota/kabupaten, dilanjutkan ke regional, hingga menuju putaran nasional.

“Alhamdulillah, meskipun belum sempurna di musim pertama, musim depan akan kami benahi. Formatnya akan lebih kompetitif,” jelasnya.

Salah satu fokus utama adalah meningkatkan jumlah pertandingan. Muhammad menegaskan bahwa kuantitas laga sangat berpengaruh terhadap perkembangan pemain muda.

Kompetisi dengan jumlah pertandingan minim dianggap kurang mendukung proses pembentukan karakter dan kemampuan pemain secara menyeluruh.

“Kami tidak ingin kompetisi yang hanya berlangsung sebentar. Kalau ingin membina pemain, jumlah pertandingannya harus banyak,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan tim-tim peserta agar sejak awal mempersiapkan diri secara matang, terutama dalam hal menyusun komposisi pemain muda.

“Jangan lupa pikirkan pemain-pemain mudanya sejak dari perencanaan,” pesannya.

Sebagai catatan penutup musim, Tri Brata Rafflesia FC berhasil keluar sebagai juara Liga 4 putaran nasional setelah mengalahkan Persika Karanganyar dengan skor tipis 3-2 di Stadion Manahan, Selasa (27/5).

Ke depan, Liga 4 diharapkan menjadi tulang punggung dari sistem pembinaan sepak bola nasional.

Jika dikelola konsisten dan terus disempurnakan, kompetisi ini bisa menjadi jembatan penting bagi para talenta muda Indonesia menuju jenjang profesional.

Regenerasi yang terstruktur dimulai dari sini. (nis/did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#regenerasi #pssi #pemain muda