SOLOBALAPAN.COM - Calvin Bassey, pemain Fulham, menjadi korban pelecehan rasis setelah timnya berhasil menaklukkan Manchester United dan melaju ke perempat final Piala FA.
Peristiwa ini terjadi usai pertandingan putaran kelima Piala FA yang mempertemukan kedua tim pada Minggu, 2 Maret 2023, di Stadion Old Trafford.
Fulham meraih kemenangan lewat adu penalti dengan skor 3-4, yang mengantarkan mereka ke babak berikutnya.
Setelah pertandingan, Fulham mengeluarkan pernyataan resmi melalui situs klub mengenai tindakan rasis yang dialami oleh Bassey.
Dalam pernyataannya, klub menegaskan bahwa mereka sangat mengecam perilaku tersebut dan menegaskan bahwa tindakan rasisme tidak memiliki tempat dalam dunia sepak bola maupun masyarakat secara umum.
“Fulham mengutuk keras perilaku tercela ini, dan tidak ada tempat bagi tindakan rasisme dalam sepak bola maupun dalam masyarakat,” tulis klub di laman resmi mereka.
"Kami akan bekerja sama dengan pihak berwenang untuk melacak pesan yang dikirimkan oleh pelaku keji ini," lanjut pernyataan tersebut.
"Fulham akan berusaha keras untuk mengidentifikasi pelaku dan mengambil tindakan tegas terhadap mereka," imbuhnya.
Klub juga menekankan komitmennya terhadap nilai-nilai inklusivitas dan mengedepankan lingkungan yang penuh rasa hormat.
"Kami tetap berkomitmen untuk mempertahankan kebijakan tanpa diskriminasi dan berusaha keras untuk menciptakan lingkungan yang penuh rasa hormat serta inklusivitas," tambah Fulham dalam pernyataan tersebut.
Namun, yang mengejutkan adalah terungkapnya bahwa pelaku rasisme ini berasal dari Indonesia dan merupakan seorang pendukung Manchester United.
Pria yang diketahui bernama Teguh Ari ini, menggunakan akun Instagram dengan nama @tghri*** untuk mengirim pesan rasis kepada Bassey.
Dalam screenshot pesan langsung (direct message) yang dibagikan oleh Bassey melalui Instagram story-nya, terlihat bahwa Teguh Ari mengirimkan kata-kata yang sangat tidak pantas, seperti, “BLA* YOU, AN*NG GUE BNUH LO KNT*L.”
Tindakan ini langsung menuai kecaman keras dari netizen Indonesia, yang merasa malu dan terhina dengan perbuatan pelaku yang memperburuk citra negara.
Hal ini menjadi sebuah pengingat bahwa diskriminasi dan rasisme tidak hanya merugikan individu yang menjadi korban, tetapi juga dapat mencoreng nama baik bangsa di kancah internasional.
Peristiwa ini membuka kembali diskusi mengenai pentingnya menjaga sikap dan perilaku di dunia maya, serta tanggung jawab sosial dalam menggunakan platform digital.
Mengingat banyaknya kasus rasisme yang masih terjadi, baik dalam olahraga maupun kehidupan sehari-hari, penting bagi kita semua untuk lebih bijaksana dan saling menghormati satu sama lain tanpa membedakan ras, suku, atau asal usul.
Kita harus terus mendukung upaya-upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk memerangi diskriminasi dalam bentuk apapun. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo