SOLOBALAPAN.COM - Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mengungkapkan bahwa pihaknya sedang berusaha untuk menaturalisasi gelandang Royal Antwerp, Jairo Riedewald, agar bisa memperkuat Timnas Indonesia.
Riedewald, yang lahir di Belanda pada 9 September 1996, dikabarkan memiliki keturunan Indonesia dari pihak kakek atau neneknya.
Meskipun Riedewald memiliki darah Indonesia, ia juga diketahui memiliki keturunan Suriname.
Erick Thohir menjelaskan bahwa proses naturalisasi Riedewald agak lebih rumit dibandingkan dengan Ole Romeny, yang juga sedang dalam proses naturalisasi.
Ole, yang baru bergabung dengan Oxford United di Inggris, klub yang dimiliki oleh Erick Thohir, dinilai lebih dekat untuk segera memperkuat Timnas Indonesia.
Erick juga menyatakan bahwa meskipun pihaknya berusaha agar Riedewald bisa membela Timnas Indonesia pada Maret 2025 untuk kualifikasi Piala Dunia 2026.
Namun, ia merasa tidak yakin bahwa proses naturalisasi Riedewald akan selesai tepat waktu untuk pertandingan tersebut.
Timnas Indonesia dijadwalkan akan menghadapi Australia dan Bahrain pada bulan Maret.
Selain itu, Erick Thohir juga menyentuh soal rumor terkait naturalisasi pemain lain, yakni Mitchel Bakker, bek sayap kiri Atalanta yang saat ini dipinjamkan ke Lille.
Bakker, yang lahir di Belanda pada 20 Juni 2000 dan dikenal memiliki keturunan Indonesia dari pihak kakeknya asal Maluku, tengah ditelusuri lebih lanjut oleh PSSI.
Namun, Erick menyebutkan bahwa proses naturalisasi Bakker agak sulit, karena regulasi FIFA mengharuskan keturunan Indonesia berasal dari orang tua atau kakek neneknya, dan saat ini PSSI belum menemukan bukti yang sesuai dengan aturan tersebut.
Meskipun demikian, Bakker tetap menjadi pemain yang menarik untuk Timnas Indonesia, mengingat kemampuannya bermain di berbagai posisi, seperti bek tengah, bek sayap kiri, atau gelandang sayap kiri.
Ia juga berpengalaman bermain di Liga Champions bersama Lille dan memiliki fisik yang mumpuni dengan tinggi 189 cm.
PSSI masih mencari dokumen yang dapat memvalidasi kualifikasinya sesuai dengan regulasi FIFA. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo