SOLOBALAPAN.COM - Rencana penambahan kuota pemain asing dalam kompetisi sepak bola Indonesia musim mendatang telah menimbulkan berbagai polemik, termasuk dari Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI).
APPI telah menerima berbagai aspirasi dan masukan dari para anggotanya serta pemangku kepentingan sepak bola lainnya terkait regulasi baru ini.
APPI menyambut dengan menghormati rencana pengesahan regulasi tersebut, terutama jika bertujuan untuk meningkatkan kualitas sepak bola di Indonesia.
Namun, APPI menegaskan perlunya melakukan kajian khusus yang mempertimbangkan segala aspek, termasuk aspirasi dari pesepakbola nasional sebagai pihak yang sangat penting.
Diskusi bersama sebelum pengesahan regulasi diharapkan dapat menghasilkan keputusan yang bijak.
Penambahan kuota pemain asing juga berhubungan langsung dengan kondisi keuangan klub-klub yang berpartisipasi dalam Liga Indonesia.
Data menunjukkan bahwa perubahan regulasi kuota pada musim 2023/2024 (dari 6 pemain asing per klub untuk Liga 1 dan 2 pemain asing untuk Liga 2) menyebabkan peningkatan yang signifikan dalam tunggakan pembayaran gaji pemain. Mayoritas kasus ini melibatkan pemain asing.
Sebagai wakil pesepak bola profesional di Indonesia, APPI mengharapkan agar ada evaluasi ulang terhadap perubahan regulasi ini atau mencari solusi alternatif seperti peningkatan jumlah turnamen resmi.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesempatan bermain bagi para pesepak bola, sehingga penilaian menjadi lebih objektif.
APPI menegaskan bahwa aspirasi dari para pesepak bola adalah hak mereka untuk berekspresi yang dilindungi oleh undang-undang.
Penambahan kuota pemain asing membawa dampak utama terhadap pemain lokal.
Dengan setiap klub menambah dua pemain asing, ini berarti ada potensi 36 pemain lokal yang akan tersisih, yang kemungkinan besar akan turun ke Liga 2.
Jika Liga 2 juga menambah satu pemain asing, maka akan ada 36 pemain Liga 2 yang tersisih karena pergerakan pemain dari Liga 1, ditambah 26 pemain lagi karena penambahan kuota pemain asing.
Secara total, ada 62 pemain WNI yang berpotensi kehilangan pekerjaan akibat kebijakan ini.
Penambahan kuota pemain asing dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Liga Indonesia, yang saat ini menempati peringkat 28 di Asia dan 6 di Asia Tenggara.
Namun, APPI menggarisbawahi pentingnya pendekatan yang obyektif. Liga-liga terbaik di Asia seperti Jepang dan Korea hanya memperbolehkan lima pemain asing dalam starting eleven mereka.
Di negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia, meskipun memiliki kuota pemain asing yang lebih banyak, mereka juga memiliki banyak kompetisi dan turnamen resmi selain liga, yang membuka peluang bagi pemain lokal untuk mendapatkan menit bermain.
Perlu dicatat bahwa di liga-liga Eropa seperti Barcelona dan Manchester City, lebih dari 50% skuad mereka terdiri dari pemain asing.
Namun, Timnas Spanyol dan Inggris tetap berhasil meraih prestasi tinggi, yang berbeda dengan kondisi di Asia, termasuk Indonesia.
Di Eropa, syarat untuk pemain asing tidak hanya berasal dari negara lain, tetapi juga mencakup pemain non-Uni Eropa. Sebagai contoh, Lionel Messi saat bermain di Eropa menggunakan paspor Spanyol, bukan Argentina.
Liga-liga di Eropa umumnya membatasi jumlah pemain non-Uni Eropa yang dapat bermain, dengan klub diwajibkan untuk mendaftarkan pemain homegrown mereka atau yang dibesarkan sejak usia dini.
Penambahan kuota pemain asing di Indonesia juga telah menunjukkan dampak seperti peningkatan kasus tunggakan gaji dan perselisihan kontrak.
Pada musim 2023/2024, peningkatan kuota pemain asing di Liga 1 dari 4 menjadi 6 pemain, dan di Liga 2 dari 0 menjadi 2 pemain asing, telah menyebabkan lonjakan kasus perselisihan kontrak di 9 klub Liga 1 dan 22 klub Liga 2.
Ini merupakan jumlah kasus terbanyak dalam tujuh musim terakhir, dengan mayoritas kasus melibatkan pemain asing.
Dampak lainnya adalah penurunan jumlah pemain lokal yang tersedia untuk tim nasional. Indonesia sering mengalami kekurangan pemain yang cocok untuk timnas, di mana dibutuhkan lebih dari 100 pemain.
Namun, dengan peningkatan kuota pemain asing, peluang bermain untuk pemain lokal akan semakin berkurang, yang berpotensi mengurangi jumlah pemain yang siap untuk timnas.
APPI mengajak semua pihak untuk mempertimbangkan dampak dari peningkatan kuota pemain asing ini.
Mereka menegaskan pentingnya melakukan kajian mendalam dan mengadakan diskusi bersama sebelum mengesahkan regulasi tersebut.
Sebagai solusi alternatif, mereka juga mengusulkan peningkatan jumlah turnamen resmi untuk meningkatkan kesempatan bermain bagi pemain lokal. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo