SOLOBALAPAN.COM - Lapangan SMPN 26 Surakarta menjadi tempat yang tidak asing bagi legenda-legenda basket Kota Solo.
Tak bisa dipungkiri, dahulu lokasi tersebut merupakan lapangan basket legendaris yang ada di Kota Solo.
Mengapa demikian? Di sanalah anak-anak yang doyan bermain bola basket menyalurkan hobinya.
Tak hanya sekadar itu, mereka juga menggeluti olahraga bola bundar tersebut, hingga beberapa pemain berhasil menjadi roster profesional.
"Ada Febri (Rachmad Febri Utomo) yang sekarang jadi asisten pelatihnya Kesatria Bengawan Solo. Dulu di Bhinneka (klub lawas Solo di era Kobatama)," sebut salah satu legenda basket Solo Tugimin di Lapangan SMPN 26 Surakarta belum lama ini.
Febri merupakan salah satu pemain yang sudah malang melintang di kompetisi Indonesia.
Berdasarkan informasi dari Indonesian Basketball League (IBL), Febri telah membela beberapa klub. Selain Bhinneka, ada CLS Knights hingga Bima Perkasa Jogja.
"Selain itu ada Lie Wen yang punya GMC (Generasi Muda Cirebon) itu kan nasional dulu. Kemudian Lie Fan, hingga Lie Ming. Banyak yang dari sini yang profesional itu. Ada juga Petter Nusukan yang keturunan Ambon," ujar Mbah Min -sapaan akrab Tugimin-.
Lie Wen pertama kali berlatih bola basket di klub TNH Solo. Setelah itu pindah ke Bhinneka, lalu ke klub Sparta Solo, kemudian ke Kumala Jaya Semarang, hingga pindah ke Union Jogja. Sempat kembali lagi ke Kumala Jaya, lalu ke Asaba yang merupakan nama awal klub Aspac.
Di Aspac Lie Wen mulai masuk menjadi salah satu legenda bola basket nasional.
Dia terpilih membela tim nasional Indonesia di ajang SEA Games 1987, 1989 dan 1991, serta Kejuaraan Asia 1987 dan 1991.
Namun di 1993, cedera menerpanya dan memutuskan mundur.
"Ada juga pemain putri nasional orang Kartasura. Latihannya di sini. Itu pemain terbaik Asia putri," sambungnya yang sedikit lupa nama pemain yang dimaksud.
Klub-klub basket juga memanaskan mesin para rosternya di lapangan ini. Sebut saja Bhinneka Solo, Garuda Muda, TNH Solo, CTH, hingga Bima Putra yang namanya diganti Sparta Solo.
"Dulu Bhinneka latihannya di sini (lapangan sebelah kanan). TNH di sana (lapangan sebelah kiri). Sparta di sini, Garuda Muda dibekasnya Lazuardi Kamila," ujar Mbah Min -sapaan akrab Tugimin.
Mbah Min juga menggunakan lapangan ini untuk berlatih. Seperti diketahui, tahun 70-an Mbah Min sudah bermain basket. Dia dahulu langganan tim basket Solo, termasuk terjun saat Pekan Olahraga Provinsi (Porprov).
"Paling tertua sejarahnya (lapangan yang ada di Solo) ya di sini. Saya juga belajar di sini. Dulu ini lapangan sekolah Chinese," ungkapnya.
Dahulu, mester jadi alas lapangan ini. Namun saat ini lapangan sudah direnovasi, papan dan ring basket masih bertahan seperti di zaman dahulu. Ada juga beberapa sarana yang sudah diganti.
"Ini peninggalan (papan dan ring yang masih ada). Bola basket (Solo) kan sejarahnya di sini," tutur Mbah Min.
Selain menjadi lokasi latihan, lapangan ini juga menjadi saksi pertandingan-pertandingan lokal dan sarat gengsi. Ambil contoh saat Bhinneka melawan Sparta, klub Mbah Min kala itu.
"Sparta sama Bhinneka kalau finalnya di sini," sambungnya. (nis/nik/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro