SOLOBALAPAN.COM – Para kontestan dari enam qualifiers Energen Champion SAC Indonesia National Championship sudah menginjakkan kakinya di Kota Bengawan, kemarin (18/1).
Setibanya di Solo, student athlete diminta untuk menjajal lapangan Stadion Sriwedari.
Salah satunya kelompok estafet 4x100 meter SMA Negeri 1 Bandar Lampung dari qualifier Sumatera.
Para siswa ini berkesempatan mencoba lintasan yang ada di stadion tempat dilangsungkannya Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama (1948) di Indonesia.
Mereka adalah M. Zawil Qirom Murobbi Arri Komara, Arjuna Wira Akbar, M. Hamam Gantari, dan Fadhillah Dwihans Fariza.
Setelah menjajal lapangan, keempat pelajar tersebut tampak puas. Mereka juga nyaman dengan suasana di venue ini.
"Kami dari Bandar Lampung ke Jakarta, lalu jam 9 pagi tadi baru sampai ke Solo. Saat mencoba lapangan, kami rasa venue ini bagus. Kalau kelasnya nasional udah bedalah. Lapangannya bagus, suasananya asri banget di sini," ujar M. Hamam Gantari kepada Jawa Pos Radar Solo usai uji coba.
Keempat pelajar ini datang ke Solo membawa banyak bekal. Mereka sudah mempersiapkan kompetisi nasional ini dengan sangat matang. Semangat mereka pun selalu berkobar.
"Sudah banyak yang dikorbankan. Jadi kami sangat siap. Persiapannya sudah sekira lima bulan," sambung M. Zawil Qirom Murobbi Arri Komara.
Zawil dkk sadar betul dengan ketatnya persaingan di tingkat nasional ini. Cukup maklum, semua peserta merupakan siswa terbaik dari enam qualifiers. Kendati demikian, mereka tetap optimistis.
"Kami sudah menduga bahwa lawannya akan lebih-lebih (berat lagi). Tapi kami optimistis. Karena di 4x100 banyak faktor (yang mempengarungi). Jadi nggak ada yang tahu (siapa yang paling terbaik)," jelasnya.
Selain uji coba lapangan, peserta juga mendapatkan tips-tips dari Suryo Agung Wibowo, atlet pemegang rekor lari 100 meter putra SEA Games 2009-sekarang.
"Agenda sore ini memberikan istilahnya tips tips motivasi kepada peserta dari setiap qualifier. Tadi yang pertama qualifier Sumatera, kedua ini Central Java, dan qualifier lain-lainnya. Jadi bagi-bagi lah, sharing knowledge, pengalaman, experience sama adik-adik," beber pria asal Kota Bengawan tersebut.
Suryo membeberkan, awalnya peserta malu-malu bertanya saat di tribun. Namun berbeda saat mereka sudah di lapangan, banyak yang meminta saran atau penjelasan dari Suryo.
"Contohnya, ada yang tanya akselerasi itu idealnya berapa meter untuk mendapat hasil maksimal? dan lainnya," ujar Suryo.
Disinggung soal venue, Suryo mengaku lapangan di Stadion Sriwedari sudah standar. Sehingga tidak ada masalah.
"Di Medan juga sama (seperti ini), sama juga dengan venue qualifier Central Java di Jatidiri (Semarang). Sudah oke di Solo tidak ada masalah" ungkapnya.
"Suasananya mendukung, agak mendung mendung sedikit setelah tadi pagi ke siang agak gerimis. Harapan saya pribadi sampai hari terakhir Sabtu seperti ini suasananya," lanjutnya.
Sebagai atlet yang menggeluti cabor atletik, Suryo mengaku senang. Menurutnya event ini bisa menjadi salah satu gebrakan untuk mensosialisasikan atletik.
"Event ini juga dikemas secara luar biasa. Jadi harapannya adalah ini tahun kan kedua, dan bisa dijalankan secara rutin," sambungnya.
Jebolan-jebolan SAC ini juga sangat potensial. Buktinya, Suryo dan empat pelajar dari SAC sempat pergi ke SEA Youth di Thailand. Mereka anak anak kelahiran 2006-2007.
"Ini juga jadi motivasi buat lainnya. Bahwa mereka juga mempunyai kesempatan membawa nama Indonesia di single event resminya atletik," bebernya. (nis/nik)