SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Plafon ruang guru SDN Cepoko 2, Dukuh Jaten, Desa Cepoko, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, roboh saat aktivitas sekolah berlangsung, Rabu (7/10). Material plafon berukuran sekitar 8 x 7 meter tersebut ambruk dan menimpa sejumlah guru.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 09.15 WIB, bertepatan dengan jam istirahat. Dua guru mengalami luka akibat kejadian tersebut.
Guru Fitriana mengalami luka ringan dan sempat mengalami syok hingga nyaris pingsan. Sementara Guru Intan mengalami luka lecet. Keduanya dilaporkan tidak mengalami luka serius.
Sebelum plafon ambruk, sejumlah guru sebenarnya telah mendengar suara retakan dari arah atap sejak sekitar pukul 07.00 WIB.
Baca Juga: Reaksi Santai Wapres Gibran Soal Putusan MK: Kalau Nggak Lulus SMA, Nggak Mungkin Bisa Kuliah!
Suara tersebut sempat dikira berasal dari gesekan atau aktivitas tikus di balik atap. Para guru kemudian berupaya mengamankan sejumlah barang penting di dalam ruang guru, termasuk televisi dan perabotan.
Namun sekitar dua jam kemudian, kekhawatiran tersebut benar-benar terjadi. Plafon ruang guru mendadak ambrol dan materialnya jatuh ke area tempat para guru beraktivitas.
Bangunan Sekolah Disebut Sudah Retak
Dugaan awal, robohnya plafon berkaitan dengan kondisi struktur bangunan yang mengalami keretakan. Pergeseran tanah di sekitar sekolah disebut menjadi salah satu dugaan penyebab munculnya retakan pada dinding.
Baca Juga: Buntut Putusan MK Soal Ijazah Gibran, Mulai Ada Laporan ke Bareskrim Polri!
Kerusakan plafon dan dinding tersebut diperkirakan menimbulkan kerugian material sekitar Rp 50 juta.
Sejumlah unsur langsung mendatangi lokasi setelah kejadian. Mereka antara lain personel Polsek Sumberlawang, Babinsa Koramil 17/Sumberlawang, Korwil Pendidikan Sumberlawang, serta pemerintah desa.
Mereka melakukan penanganan awal sekaligus pendataan terhadap kondisi bangunan dan dampak kejadian.
Kepala Desa Cepoko Ngadiman membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan kondisi dua guru yang menjadi korban tidak mengalami luka serius.
Namun, Ngadiman menyoroti kondisi fisik bangunan sekolah yang dinilainya sudah cukup memprihatinkan.
"Ruang guru yang roboh kena gurunya, tapi tidak parah. Bangunan ini sebenarnya baru dibangun sekitar tahun 2020, tapi kondisinya sudah bentet atau retak-retak seperti habis kena gempa. Tidak tahu dulu proses pengerjaannya bagaimana," kata Ngadiman.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian karena bangunan sekolah tersebut tergolong belum terlalu lama dibangun.
Baca Juga: Bukan Sekadar Pengasuh, Ini Pelajaran tentang Kesabaran dari Sosok Bear di Masha and the Bear
Ngadiman juga menyebut SDN Cepoko 2 bukan sekolah yang sepi siswa. Jumlah peserta didik di sekolah tersebut dinilai cukup banyak sehingga kondisi bangunan perlu mendapat perhatian.
Peristiwa robohnya plafon ruang guru tersebut kini menjadi perhatian pihak terkait, terutama terkait keamanan bangunan sekolah agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. (din/an)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : solobalapan.com