SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo, Mojosongo, Solo, yang kembali terjadi pada Kamis (24/9/2026), belum sepenuhnya tuntas. Hingga Jumat (25/9/2026) siang, kepulan asap masih terlihat dari sejumlah titik timbunan sampah.
Kondisi tersebut membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surakarta mempertimbangkan kembali pengusulan status tanggap darurat untuk penanganan kebakaran di TPA Putri Cempo.
Sebelumnya, penanganan kebakaran TPA Putri Cempo telah memasuki masa transisi setelah status tanggap darurat selama 14 hari berakhir pada 16 September 2026. Saat itu, Pemkot Surakarta menyatakan asap telah padam secara signifikan, tetapi masih terdapat potensi bahaya berupa gas metana di dalam timbunan sampah.
Pada Jumat siang, sejumlah titik asap masih terlihat di kawasan Blok B dan Blok C. Petugas gabungan terus melakukan penyisiran, pemadaman, serta pembasahan untuk mencegah munculnya kembali titik api.
Baca Juga: Dari Refleksi hingga Produktivitas: Mengenal Beragam Metode Journaling yang Bisa Dicoba
Kepala Pelaksana BPBD Kota Surakarta Ari Dwi Daryatmo mengatakan, titik asap masih ditemukan di Blok C sisi timur dan Blok B bagian utara yang sebelumnya menjadi lokasi munculnya api.
“Untuk Blok C sisi timur memang masih ada beberapa titik asap. Kemudian di Blok B yang utara, yang kemarin titik apinya di situ, juga masih ada beberapa titik asap,” kata Ari, Jumat (25/9/2026).
Data lapangan yang dilaporkan pada Jumat pagi bahkan mencatat sekitar 34 titik asap, dengan rincian 15 titik di Blok B, 13 titik di Blok C, dan enam titik di Blok D1. Petugas melakukan penyisiran menggunakan metode inject dan water curtain untuk menangani titik-titik tersebut.
Meski masih terdapat kepulan asap, BPBD memastikan kondisi kebakaran jauh lebih terkendali dibandingkan saat api kembali muncul pada Kamis.
“Kalau melihat kondisinya memang sudah tidak seperti kemarin. Alhamdulillah sudah signifikan,” jelas Ari.
Api Kembali Muncul di Tiga Blok
Kebakaran kembali terjadi sekitar pukul 11.30 WIB pada Kamis (24/9/2026). BNPB melaporkan titik api terdeteksi di tumpukan sampah Blok B, C, dan D1 dengan luas area terbakar sekitar 1,36 hektare. Kondisi panas hingga 36 derajat Celsius dan angin cukup kencang menjadi tantangan dalam proses pemadaman.
Ari menjelaskan, saat kebakaran terjadi, petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sedang melakukan penanganan di sisi selatan Blok C. Kondisi di bagian utara tidak langsung terpantau.
Selain cuaca panas, arah angin yang berubah-ubah turut membuat api cepat merembet.
“Saat kejadian sekitar pukul 11.30, petugas DLH tengah melakukan penanganan di sisi selatan Blok C sehingga kondisi di bagian utara tidak langsung terpantau. Suhunya panas, terus anginnya muter-muter. Itu jadi pemicu juga. Akhirnya menyebar cepat ke mana-mana,” beber Ari.
BPBD Kembali Ajukan Tanggap Darurat
Penanganan kebakaran kali ini dinilai dapat dikendalikan lebih cepat dibandingkan kejadian sebelumnya. Salah satu faktor yang disebut membantu adalah sebagian material di lokasi telah terbakar pada kejadian sebelumnya.
Meski demikian, petugas masih harus memastikan material yang berpotensi menjadi sumber api telah ditangani dan tidak kembali memicu kebakaran.
Dengan kondisi tersebut, BPBD mulai mempersiapkan pengusulan kembali status tanggap darurat.
“Ini kemarin kita data ada sekitar hampir 200-an personel yang terlibat. Untuk mencukupi logistik, kemudian kebutuhan BBM. Kita mengusulkan tanggap darurat, kami masih mohon arahan dari pimpinan,” kata Ari.
Pernyataan tersebut sejalan dengan laporan bahwa BPBD Solo memang berencana mengusulkan kembali status tanggap darurat setelah kebakaran kembali terjadi, meskipun api utama telah mulai terkendali.
Respati: Masih Masa Transisi
Terpisah, Wali Kota Surakarta Respati Ardi membenarkan kebakaran kembali terjadi ketika penanganan TPA Putri Cempo masih berada dalam masa transisi.
Ia menyebut keberadaan gas metana dan kondisi cuaca panas menjadi perhatian dalam penanganan kebakaran berulang di lokasi tersebut.
“Ini karena gas metannya, bismillah. Untuk semua stakeholder, rekan-rekan yang selalu membantu kami. Kami siapkan semua fasilitas untuk warga terdampak. Apakah akan dinaikkan status ke tanggap darurat bencana? Ini masa transisi dulu,” papar Respati.
Sebelumnya, Pemkot Surakarta memang memasuki masa transisi setelah status tanggap darurat berakhir. Pada fase tersebut, BPBD, BNPB, Damkar, TNI, Polri, relawan dan sejumlah stakeholder masih dilibatkan untuk memastikan kondisi TPA aman, terutama terkait potensi gas metana.
Dengan kembali munculnya kebakaran, perhatian kini kembali tertuju pada efektivitas penanganan di masa transisi serta kemungkinan ditetapkannya kembali status tanggap darurat untuk memperkuat kebutuhan personel, logistik dan operasional di lapangan. (ves/an)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : solobalapan.com