
SOLOBALAPANCOM — Kebakaran hebat yang melanda fasilitas pengolahan sampah berusia 40 tahun di TPA Putri Cempo Solo pada Rabu (2/9/2026) sore telah meluaskan dampak krisis lingkungan hingga ke wilayah perbatasan Kabupaten Karanganyar.
Amukan si jago merah yang membakar gunungan sampah di TPA Putri Cempo tidak hanya mengancam kawasan Kota Solo, tetapi juga berdampak langsung pada kualitas udara di kawasan pemukiman tetangga. Dorongan angin kencang membawa asap pekat ke arah utara, melintasi batas administratif daerah menuju wilayah Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar. Potensi racun asap dari tumpukan sampah menjadi ancaman kesehatan serius, terutama bagi warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan kronis.
Baca Juga: Dampak Mencekam Kebakaran TPA Putri Cempo: Aktivitas Pembuangan Sampah Solo Resmi Ditunda!
Insiden bermula ketika kobaran api pertama kali terlihat membumbung sekitar pukul 18.30 WIB dari area tumpukan sampah utama di Kelurahan Mojosongo. Perambatan api yang cepat memaksa puluhan unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi untuk memblokir sebaran kobaran api.
Sementara itu di wilayah Karanganyar, pekatnya asap beracun mulai merambah tiga dusun terdekat, yakni Ngrancang, Suluhrejo, dan Mojorejo. Menanggapi situasi berbahaya ini, otoritas Kecamatan Gondangrejo berkoordinasi dengan BPBD dan Dinas Kesehatan Karanganyar untuk mengevakuasi dua warga Desa Plesungan penderita asma ke lokasi aman di rumah saudaranya. Petugas lapangan juga bergerak cepat membagikan sedikitnya 4.000 masker pelindung pada Rabu malam guna meminimalkan paparan paparan ISPA pada masyarakat sekitar.
Baca Juga: Jeritan 278 Pemulung TPA Putri Cempo Solo: Rezeki Terancam Amblas Akibat Kebijakan Sampah Dipilah!
TPA Putri Cempo merupakan satu-satunya muara pembuangan sampah utama yang dikelola oleh Pemerintah Kota Surakarta. Berdasarkan data resmi Pemkot Surakarta, TPA yang berlokasi di Kecamatan Jebres ini telah beroperasi secara aktif sejak tahun 1986. Usianya yang telah menginjak empat dekade serta tingginya volume akumulasi sampah kering menjadikan kawasan ini amat rentan terhadap potensi kebakaran hebat saat musim kemarau atau saat dipicu oleh gesekan material.
Pemerintah Daerah lintas batas kini terus mengagendakan pemantauan kualitas udara di sekitar wilayah terdampak. Di sisi lain, Pemkot Solo bersama jajaran pemadam kebakaran terus mengupayakan pendinginan (cooling down) pada titik-titik asap tersembunyi di dalam gunungan sampah TPA guna memastikan api tidak kembali berkobar dan memperparah polusi udara di wilayah Solo Raya. (angelyna fransiska meia)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : solobalapan.com