Perjuangan Pilu Warga Juwangi Boyolali: Jalan 2 KM Masuk Hutan Terjal demi Setetes Air Bersih!

Damianus Bram • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 16:53 WIB
warga Desa Ngaren, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali saat mengambil sisa sisa air disumur didalam hutan. (Khofid/Radar Solo)
warga Desa Ngaren, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali saat mengambil sisa sisa air disumur didalam hutan. (Khofid/Radar Solo)

 

SOLOBALAPAN.COM — Dampak kemarau panjang yang melanda Kabupaten Boyolali kian dirasakan berat oleh masyarakat.

Warga Desa Ngaren, Kecamatan Juwangi, kini harus menanggung getirnya krisis air bersih demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Akibat kekeringan parah yang melanda permukiman mereka, warga terpaksa berjalan kaki menyusuri kawasan hutan milik Perhutani sejauh 1 hingga 2 kilometer.

Medan jalan yang harus ditempuh pun terbilang ekstrem, berupa jalan setapak yang naik turun dan terjal.

Setiap hari, tampak pemandangan warga membawa galon bekas hingga ember untuk mengambil air dari satu-satunya sumur di dalam hutan yang debit airnya masih bertahan. Air tersebut dimanfaatkan untuk memasak, minum, mencuci, hingga mandi.

Salah seorang warga Desa Ngaren, Adiyanto, mengungkapkan bahwa kesulitan air bersih ini sudah berlangsung selama dua bulan terakhir.

“Di sini kita sudah jadi rutinitas cari air bersih (saat kemarau). Khususnya daerah Ngaren di bulan-bulan ini kekurangan air,” jelas Adiyanto.

Ia mengaku harus mengambil air ke dalam hutan sebanyak dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari.

Meskipun sudah ada bantuan droping air bersih, pasokan tersebut dinilai tidak memadai karena tidak bisa hadir setiap hari untuk memenuhi kebutuhan harian warga.

Adiyanto menyebut kondisi ini selalu berulang setiap tahun. Ia sangat berharap pemerintah tidak sekadar memberikan bantuan droping air sementara, tetapi menghadirkan solusi permanen atas krisis air bersih tersebut.

Senada dengan Adiyanto, warga lainnya bernama Nur menuturkan bahwa kekeringan di desanya selalu dipastikan terjadi saban musim kemarau tiba.

“Sejak bulan lalu (kekeringan), terakhir hujan itu terus satu bulan setelahnya sudah kering. Kalau di desa tidak ada (air) kita carinya di hutan,” beber Nur.

Nur mengkhawatirkan jika kemarau berlanjut hingga September, jarak tempuh warga untuk berburu air ke dalam hutan bakal kian jauh melebihi radius 1–2 kilometer saat ini.

Baca Juga: Kekeringan di Sukoharjo Meluas di 3 Kecamatan dan 9 Desa, 1,26 Juta Liter Air Bersih Disalurkan

Pemdes Ngaren Desak Pemkab Boyolali Bangun Sumur Bor

Sementara itu, Kepala Desa Ngaren, Budiyono, menjelaskan bahwa pihak pemerintah desa sebenarnya sudah berupaya membuat sumur bor. Namun, kapasitas yang ada saat ini belum mampu mencukupi kebutuhan seluruh warganya.

"Masih ada ratusan hingga ribuan jiwa warganya yang mengalami krisis air bersih. Dengan kondisi itu, pemerintah desa berupaya mencarikan bantuan droping air bersih dari berbagai pihak, termasuk BPBD, PMI, relawan dan sejumlah instansi lainnya. Meski demikian memang tidak bisa setiap hari melakukan droping air bersih," jelas Budiyono.

Lantaran bantuan air tak selalu tiba setiap hari, warga tidak memiliki pilihan lain selain menyusuri jalan terjal masuk ke hutan Perhutani.

"Kami berharap agar bantuan air bersih dapat terus disalurkan untuk warga selama musim kemarau hingga musim penghujan tiba," kata Budiyono.

Hingga saat ini, warga bersama Pemerintah Desa Ngaren berharap penuh kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali untuk segera merealisasikan pembangunan sumur bor permanen.

Langkah ini dinilai menjadi solusi tunggal agar warga tidak perlu lagi mempertaruhkan keselamatan menyusuri hutan terjal saat kemarau panjang melanda. (fid/dam)

Editor : Damianus Bram
Sumber : Solo Balapan
kekeringan desa ngaren boyolali air bersih kemarau