SOLOBALAPAN.COM - Setiap bulan Agustus, suasana di berbagai daerah di Indonesia berubah menjadi lebih meriah. Bendera Merah Putih mulai dipasang di depan rumah, jalan dihiasi umbul-umbul, sementara warga sibuk menyiapkan berbagai kegiatan untuk memperingati 17 Agustus.
Di tengah suasana tersebut, ada satu istilah yang sudah sangat akrab di telinga masyarakat, yaitu “tujuhbelasan”.
Baca Juga: Bagaimana Orang Indonesia Merayakan Kemerdekaan Sebelum Ada Lomba 17 Agustus?
Istilah tersebut biasanya digunakan untuk menyebut berbagai kegiatan yang berlangsung dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Mulai dari lomba, kerja bakti, jalan sehat, pentas seni, tirakatan, hingga acara makan bersama.
Lalu, mengapa tujuhbelasan sering disebut sebagai pesta rakyat?
Salah satu alasannya adalah karena perayaan ini melibatkan masyarakat secara luas. Tujuhbelasan bukan hanya acara resmi pemerintah yang berlangsung di gedung atau lapangan besar.
Di tingkat kampung, perayaannya justru banyak disiapkan dan dilaksanakan langsung oleh warga.
Baca Juga: Kenapa Lomba 17 Agustus Bisa Membuat Orang Dewasa Kembali Jadi Anak-Anak?
Anak-anak, remaja, orang tua, hingga lansia dapat mengambil bagian. Ada yang menjadi panitia, menghias lingkungan, menyiapkan konsumsi, mengikuti lomba, menjadi penonton, atau sekadar berkumpul bersama tetangga.
Karena itulah, suasana tujuhbelasan terasa seperti pesta yang dimiliki bersama.
Tradisi tersebut juga memiliki bentuk yang berbeda-beda di setiap daerah. Ada kampung yang mengadakan lomba sederhana, ada yang menggelar pentas seni, sementara daerah lainnya mengadakan karnaval atau kirab budaya.
Di beberapa tempat, masyarakat juga mengadakan malam tirakatan pada 16 Agustus sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan syukur atas kemerdekaan.
Perayaan seperti ini membuat 17 Agustus tidak hanya menjadi tanggal yang diperingati melalui upacara resmi. Kemerdekaan juga hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Salah satu ciri khas pesta rakyat adalah munculnya berbagai perlombaan. Balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, bakiak, panjat pinang, hingga berbagai permainan lokal menjadi hiburan yang mempertemukan warga.
Baca Juga: KRL Ternyata Sudah Ada Sejak Zaman Belanda, Begini Awal Mula Kereta Listrik Indonesia
Uniknya, lomba tersebut tidak selalu bertujuan mencari pemenang terbaik. Keseruan dan kebersamaan sering kali justru menjadi bagian terpenting.
Bapak-bapak yang sehari-hari bekerja, misalnya, bisa ikut tarik tambang. Ibu-ibu dapat mengikuti lomba tertentu, sementara anak-anak memenuhi lapangan untuk mengikuti berbagai permainan.
Suasana inilah yang membuat tujuhbelasan terasa berbeda dari perayaan biasa.
Selain hiburan, kegiatan tersebut juga memperkuat hubungan antarwarga. Persiapan perayaan biasanya dilakukan secara bersama-sama. Warga dapat melakukan kerja bakti, memasang bendera, menghias jalan, mengumpulkan dana, dan menyiapkan berbagai perlengkapan.
Dengan begitu, perayaan kemerdekaan tidak hanya berlangsung selama perlombaan. Proses mempersiapkannya pun menjadi bagian dari kegiatan sosial masyarakat.
Istilah “pesta rakyat” juga cocok karena masyarakat dari berbagai latar belakang dapat ikut merayakannya. Tidak diperlukan undangan khusus atau tiket untuk menikmati suasana perayaan di lingkungan sendiri.
Kemerdekaan yang dahulu diperjuangkan melalui berbagai bentuk perjuangan kemudian diperingati oleh masyarakat dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: CORTIS Cetak Rekor di Billboard, Sapu Peringkat 1 dan 2 Chart Album Dunia
Namun, tujuhbelasan bukan berarti kemerdekaan hanya dirayakan dengan bersenang-senang. Di balik suasana meriah tersebut terdapat nilai yang lebih besar, seperti persatuan, gotong royong, kebersamaan, dan rasa syukur.
Itulah sebabnya suasana tujuhbelasan bisa ditemukan hampir di mana-mana. Dari kompleks perumahan hingga gang sempit, dari desa hingga kota, masyarakat memiliki cara masing-masing untuk memeriahkan bulan kemerdekaan.
Jadi, “tujuhbelasan” disebut pesta rakyat karena perayaannya tumbuh dari masyarakat dan kembali dinikmati oleh masyarakat.
Tidak harus mewah. Tidak harus diadakan di tempat besar. Sebuah gang kecil dengan bendera Merah Putih, lomba sederhana, dan warga yang tertawa bersama pun sudah cukup untuk membuat suasana tujuhbelasan terasa seperti pesta.
Karena pada akhirnya, pesta terbesar dalam merayakan kemerdekaan bukan soal seberapa meriah acaranya, tetapi seberapa banyak orang yang ikut merasakan kebersamaannya.(luthfiana sekar)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber