Umbul Rogoboyo: Mata Air yang Pernah Mati 3 Bulan, Kini Jadi Nadi Kehidupan Warga Kadireso

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:25 WIB
Warga Kadireso beraktivitas di Umbul Rogoboyo, Boyolali. (Rara Belva/Radar Solo)
Warga Kadireso beraktivitas di Umbul Rogoboyo, Boyolali. (Rara Belva/Radar Solo)

BOYOLALI – Di sudut Dusun Rogoboyo, Desa Kadireso, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, aliran air tak pernah sekadar menjadi pemandangan. Dari sebuah sumber bernama Umbul Rogoboyo, kehidupan warga telah mengalir sejak lama.

Air dari umbul tersebut dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Mulai mandi, mencuci pakaian, mencuci kendaraan, hingga memenuhi kebutuhan air masyarakat. Alirannya juga membantu mengairi lahan pertanian warga.

Umbul Rogoboyo terbagi dalam tiga bagian. Bagian depan biasa digunakan untuk mencuci, sedangkan dua bagian lainnya lebih banyak dimanfaatkan untuk mandi. Airnya yang terus mengalir membuat umbul ini menjadi salah satu sumber air penting bagi warga sekitar.

Bukan hanya orang dewasa yang akrab dengan Umbul Rogoboyo. Anak-anak setempat juga kerap bermain dan berenang di kolam umbul. Beberapa ikan bahkan masih terlihat berenang di dalamnya.

Namun, aliran air yang kini tampak tak pernah putus itu ternyata menyimpan cerita. Umbul Rogoboyo pernah mati selama sekitar tiga bulan.

Pernah Mati Tiga Bulan

Ketua RT Dukuh Rogoboyo, Zarkoni Priyosudarmo, menuturkan sejarah sumber air tersebut berkaitan dengan pembuatan sumur bor oleh seorang warga bernama Hartono.

Dahulu, Hartono membuat sumur bor untuk membantu kebutuhan pertanian masyarakat sekitar. Dari pengeboran tersebut keluar sumber air yang kemudian dimanfaatkan warga.

Namun, aliran air sempat berhenti sekitar tiga bulan. Setelah itu, sumber air kembali mengalir.

Menariknya, menurut cerita yang berkembang di masyarakat, kembalinya aliran Umbul Rogoboyo berlangsung bersamaan dengan kembali hidupnya Umbul Langse yang berada di Dukuh Lebak, Desa Ngrepen, Kecamatan Teras.

Saat itu, warga di sekitar Umbul Langse menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk sebagai bagian dari ikhtiar dan tradisi masyarakat setempat. Setelah pertunjukan tersebut, aliran kedua umbul kembali muncul.

“Airnya sempat mati sekitar tiga bulan. Setelah itu kembali hidup bersamaan dengan Umbul Langse. Warga saat itu menggelar wayang kulit semalaman di sekitar Umbul Langse,” ujar Zarkoni.

Hartono, lanjut Zarkoni, sebelumnya tinggal di Jakarta dan kini telah meninggal dunia. Sumber air tersebut kemudian diwakafkan untuk warga Dusun Rogoboyo, Desa Kadireso, agar dapat dimanfaatkan bersama.

“Warga Rogoboyo sangat berterima kasih atas adanya sumber air tersebut. Sekarang dikelola warga sekitar untuk kepentingan masyarakat,” imbuhnya.

Tak Hanya untuk Warga Rogoboyo

Umbul Rogoboyo tidak menjadi sumber air eksklusif bagi warga setempat. Masyarakat dari wilayah lain juga diperbolehkan memanfaatkannya.

Bahkan, orang yang melintas di jalan sekitar umbul dapat berhenti untuk sekadar melihat suasana, mandi, mencuci, atau mengambil air.

“Kegunaannya diberikan kepada masyarakat Dusun Rogoboyo, Desa Kadireso untuk semua masyarakat, terutama masyarakat terdekat. Orang yang bepergian dan melewati jalan sumber air ini juga bisa berhenti untuk melihat-lihat, bahkan mandi atau mencuci,” kata Zarkoni.

Keterbukaan itu membuat Umbul Rogoboyo memiliki fungsi lebih luas. Tempat tersebut bukan hanya sumber air, melainkan juga ruang interaksi masyarakat.

Aktivitas warga mengambil air, mandi, mencuci hingga anak-anak bermain air menjadi bagian dari keseharian yang berlangsung di sekitar umbul.

Warisan yang Perlu Dijaga

Keberadaan Umbul Rogoboyo memperlihatkan betapa pentingnya sumber air bagi kehidupan masyarakat pedesaan. Air menopang kebutuhan rumah tangga, pertanian, sekaligus menjadi bagian dari kehidupan sosial warga.

Pengalaman ketika umbul sempat berhenti mengalir selama tiga bulan juga menjadi pengingat bahwa sumber air tidak boleh dianggap akan selalu tersedia.

Kebersihan lingkungan, kelestarian kawasan sekitar sumber air, serta penggunaan air secara bijak menjadi kunci agar alirannya tetap terjaga.

Kini, Umbul Rogoboyo masih menjadi bagian dari kehidupan warga Dusun Rogoboyo. Bentuknya mungkin sederhana, tetapi manfaatnya tidak kecil.

Dari tempat mandi dan mencuci, sumber pengairan pertanian, hingga ruang bermain anak-anak, Umbul Rogoboyo telah menjadi saksi perjalanan masyarakat Desa Kadireso.

Bagi warga Rogoboyo, merawat umbul bukan sekadar menjaga air tetap mengalir. Mereka juga tengah menjaga sebuah warisan yang menyimpan nilai sejarah, sosial, dan manfaat bagi kehidupan bersama. (rara belva zain carissa)

Editor : Kabun Triyatno
Umbul Rogoboyo kebutuhan mencuci sumber air