Soal Status Legalitas dan Operasional Tahir Solo Museum, Ini Jawaban Wali Kota Solo Respati Ardi

Silvester Kurniawan • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 17:15 WIB
Suasana Tahir Solo Museum kala soft opening beberapa waktu lalu. (Muh. Ihsan/solobalapan.com)
Suasana Tahir Solo Museum kala soft opening beberapa waktu lalu. (Muh. Ihsan/solobalapan.com)

 

SOLOBALAPAN.COM – Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, angkat bicara merespons kekhawatiran Komisi II DPRD Kota Surakarta terkait skema pengelolaan dan beban operasional Tahir Solo Museum.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta menjamin bakal mengatur formulasi tata kelola agar pengeluaran dan pemasukan museum berimbang, sekaligus mampu memberi kontribusi positif bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Sebelumnya, Komisi II DPRD Kota Surakarta menyoroti hibah bangunan senilai ratusan miliar rupiah tersebut lantaran dinilai berpotensi menjadi beban keuangan bagi Perumda Aneka Usaha Pedaringan.

Apalagi hingga kini, kepastian status kepemilikan aset tersebut masih dalam pembahasan antara Pemkot dan BUMD.

Menanggapi status kepemilikan aset tersebut, Respati menegaskan pihak eksekutif tengah melakukan pendalaman teknis.

"Soal statusnya nanti kami bahas dulu ya. Aman pokoke," ujar Respati Ardi saat ditemui di Balai Kota Surakarta, Senin (10/8/2026).

Baca Juga: Legalitas Belum Jelas! DPRD Solo Ungkap Penyebab Tahir Solo Museum Bisa Bikin BUMD Pedaringan Buntung

Siasati Operasional Rp 900 Juta per Bulan

Selain kejelasan legalitas aset, jajaran legislatif sebelumnya menggarisbawahi estimasi biaya operasional Tahir Solo Museum yang ditaksir mencapai Rp 900 juta per bulan—sebagaimana dipaparkan manajemen Perumda Pedaringan dalam rapat dengar pendapat (RDP) pada Jumat (7/8/2026) lalu.

Respati optimistis bahwa dengan manajemen destinasi wisata yang tepat, museum sains dan teknologi tersebut justru akan mendatangkan nilai tambah finansial bagi Kota Solo.

"Ya nanti kita atur supaya bisa balance, jadi spot wisata yang baik, dan menjadi bentuk kerja sama yang sehat. Saya kira keberadaan museum itu justru bisa mendatangkan tambahan PAD," terang Wali Kota Solo.

Pengelola Optimis Kunjungan Tinggi Tumpuan PAD

Secara terpisah, Pengelola Tahir Solo Museum, Tjoek Sugiharto, membenarkan bahwa kalkulasi kebutuhan operasional museum memang berada di kisaran Rp 900 juta setiap bulannya.

Meski demikian, pihaknya sangat optimistis mampu menutup kebutuhan tersebut seiring tingginya antusiasme masyarakat.

"Waktu pertama kali dibuka, tingkat kunjungan mencapai 2.500 orang dalam sehari. Untuk hari-hari berikutnya stabil di kisaran 1.000 hingga 1.500 orang per hari. Tingginya angka kunjungan ini kami harapkan bisa mendongkrak PAD, tidak hanya untuk museum tapi juga ekosistem pariwisata Solo secara luas," ungkap Tjoek.

Melalui sinergi antara pengelolaan profesional dan penyesuaian regulasi bersama DPRD, Pemkot Surakarta berharap Tahir Solo Museum dapat beroperasi secara mandiri tanpa membebani keuangan daerah, sekaligus memperkuat daya tarik wisata edukasi di Kota Bengkak. (ves)

Editor : Damianus Bram
Sumber : Solo Balapan
Tahir Solo Museum perumda pedaringan Respati Ardi Wali Kota Surakarta pemkot solo