SOLOBALAPAN.COM – Kehadiran Tahir Solo Museum di kawasan Pedaringan, Jebres, sukses menyedot perhatian antusiasme ribuan masyarakat.
Namun, di balik ramainya kunjungan, skema tata kelola museum sains dan teknologi baru tersebut rupanya masih menjadi tanda tanya.
Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta hingga kini belum menetapkan lembaga pengelola resmi—apakah nantinya bakal berada di bawah naungan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), diserahkan penuh kepada pihak ketiga, atau menggunakan skema tata kelola lainnya.
Sorotan menarik muncul lantaran destinasi edukasi tersebut telah beroperasi secara komersial dengan menarik dana dari masyarakat melalui penjualan tiket masuk kunjungan. Berdasarkan info operasional di lapangan, tarif tiket dibanderol Rp30.000 untuk anak-anak/pelajar dan Rp50.000 untuk dewasa.
Kondisi ini memantik pertanyaan publik: Lantas, ke mana dan siapa yang mengelola aliran dana hasil penjualan tiket tersebut sebelum bentuk pengelola resminya diketok?
Baca Juga: Soroti Pengelolaan Tahir Solo Museum, DPRD Desak Pemkot Perjelas Status Aset dan Operasional
Pemkot Solo Janjikan Kajian dan Evaluasi
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, mengonfirmasi bahwa bentuk model bisnis dan badan pengelola resmi museum memang masih dalam tahap kajian pemetaan.
"Apakah nanti dikelola BUMD atau pihak ketiga? Kita lihat nanti," ujar Respati Ardi saat memberikan keterangan kepada media.
Respati menjelaskan, sebelum menentukan pilihan skema pengelolaan jangka panjang, Pemkot Solo fokus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap teknis operasional di lapangan. Evaluasi tersebut meliputi penataan alur keluar-masuk pengunjung, penataan lahan parkir yang memadai, peningkatan sistem pelayanan, hingga pemenuhan fasilitas penunjang lainnya demi kenyamanan publik.
"Kami perlu melakukan review menyeluruh agar alur masuk, akses parkir, dan fasilitas pendukung lainnya benar-benar memadai. Fokus utama kami saat ini adalah kenyamanan pengunjung serta kemanfaatan museum ini bagi masyarakat luas," tegasnya.
Apresiasi Antusiasme Warga
Meski skema kelembagaannya masih digodok, Wali Kota muda itu mengaku bersyukur melihat tingginya respons positif masyarakat sejak museum dibuka secara terbatas. Fenomena antrean panjang yang mengular dalam beberapa hari terakhir dinilainya sebagai indikator positif bahwa ruang edukasi sains dan teknologi sangat dibutuhkan di Kota Solo.
"Saya senang sekali melihat antusiasme masyarakat. Antreannya panjang dan minat warga luar biasa," imbuhnya.
Pemkot Solo berjanji akan menyegera keputusan skema tata kelola tersebut agar aspek legalitas, transparansi pendapatan retribusi/tiket, serta keberlanjutan operasional Tahir Solo Museum dapat berjalan secara profesional dan akuntabel. (ves/dam)
Editor : Damianus BramSumber : Solo Balapan