SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Penutupan Pusat Grosir Solo (PGS) setelah dinyatakan pailit membuat para pedagang harus mencari lokasi baru untuk melanjutkan usaha. Sebagian pedagang memilih pindah ke Beteng Trade Center (BTC), sementara lainnya membuka kembali usahanya di Pasar Klewer.
Aktivitas jual beli di PGS berakhir pada 30 Juni 2026. Pusat perdagangan yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu ikon wisata belanja Kota Solo itu kini mulai ditinggalkan para pedagang dan pekerja.
Marketing dan Tenant Relation PGS, Bachtiar Ibnu Fadzil, mengatakan rencana penutupan sebenarnya sudah berlangsung sejak beberapa bulan sebelumnya. Tenant yang masa kontraknya berakhir tidak lagi diperpanjang.
Baca Juga: Satu Klik Bisa Menguras Rekening, Waspadai Link Phishing Perbankan
Kondisi tersebut membuat jumlah kios yang masih beroperasi terus menyusut. Dari sekitar 700 kios, pada masa-masa terakhir hanya tersisa sekitar 60 kios yang masih aktif.
PGS Tutup Bukan karena Sepi Pengunjung
Fadzil menegaskan, penutupan PGS bukan disebabkan minimnya pengunjung atau sepinya aktivitas perdagangan. Menurut dia, persoalan tersebut berkaitan dengan investasi yang gagal hingga berujung pada putusan pailit.
"Ini bukan pailit karena enggak laku atau sepi, tapi dipailitkan. Satu-satunya faktor adalah investasi yang gagal," ujar Fadzil, Selasa (4/8).
Menurutnya, PGS sebenarnya masih memiliki daya tarik sebagai destinasi wisata belanja. Bahkan, dari sisi kenyamanan dan jumlah pengunjung, PGS dinilai masih memiliki keunggulan dibandingkan sejumlah pusat grosir lainnya.
"Kalau disuruh milih PGS atau BTC, kebanyakan tetap milih PGS. Secara kenyamanan dan crowd pengunjung masih di atas," katanya.
Baca Juga: Pernikahan Generasi Media Sosial dan Cara Baru Mengabadikan Momen
Pedagang Terpaksa Beradaptasi
Meski PGS masih dianggap memiliki daya tarik, para pedagang kini harus beradaptasi dengan lokasi baru. Sebagian memilih BTC, sedangkan lainnya mengalihkan usaha ke Pasar Klewer.
Perpindahan tersebut juga berdampak terhadap tenaga kerja. Ukuran kios di lokasi baru yang cenderung lebih kecil membuat sejumlah pedagang terpaksa mengurangi jumlah karyawan.
Dari sekitar 60 kios yang masih aktif menjelang penutupan, diperkirakan sekitar 400 pekerja terdampak kehilangan pekerjaan. Jika dihitung sejak jumlah tenant mulai berkurang, jumlah tenaga kerja yang kehilangan mata pencaharian bahkan diperkirakan mencapai ribuan orang.
Pedagang Pindah ke Pasar Klewer
Salah seorang pedagang busana muslim, Ilham, memilih memindahkan usahanya ke Pasar Klewer. Sebelumnya, dia memiliki tiga kios di PGS. Namun, untuk sementara, Ilham hanya menyewa satu kios di Pasar Klewer.
Baca Juga: Siapa Sangka, Rich Brian Jadi Sosok di Balik Suara "Om Telolet Om" di Lagu HONK! NO NA
Menurut Ilham, keputusan tersebut menjadi pilihan realistis agar usahanya tetap berjalan di tengah kondisi perekonomian yang dinilai belum pulih sepenuhnya.
Dia mengaku mengalami penurunan omzet cukup drastis. Bahkan, omzet usahanya disebut sempat merosot hingga 75 persen.
"Sekarang perekonomian jauh rendah. Omzet bisa turun sampai 75 persen. Bulan puasa yang biasanya jadi harapan pedagang, kemarin juga sepi," ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat Ilham harus melakukan efisiensi, termasuk mengurangi jumlah karyawan. Dari sebelumnya tujuh orang, kini hanya tiga pekerja yang dipertahankan.
Meski biaya sewa kios di Pasar Klewer lebih terjangkau, Ilham tetap menilai PGS memiliki keunggulan tersendiri sebagai ikon wisata belanja Solo.
"Yang penting sekarang bertahan dulu. Daripada menganggur, usaha tetap harus jalan. Karyawan juga kasihan kalau tidak ada pekerjaan," ujarnya.
Baca Juga: Climate Doomism: Ketika Narasi Krisis Iklim Mengikis Harapan akan Masa Depan
Aset PGS Masuk Proses Lelang
Sementara itu, Fadzil menjelaskan aset PGS kini berada di bawah penanganan kurator dan selanjutnya akan memasuki proses lelang sesuai putusan pengadilan.
Setelah proses lelang selesai, pemanfaatan gedung sepenuhnya akan menjadi kewenangan investor baru.
Fadzil berharap investor yang nantinya mengambil alih aset tersebut tetap mempertahankan PGS sebagai pusat perdagangan dan wisata belanja.
"Kita sih berharap investor baru nanti tetap mempertahankan PGS menjadi seperti ini, karena masih potensial," pungkasnya.
Penutupan PGS tidak hanya mengakhiri aktivitas salah satu pusat grosir yang telah lama menjadi bagian dari denyut ekonomi Kota Solo. Perpindahan pedagang juga menunjukkan dampak lebih luas terhadap keberlangsungan usaha dan tenaga kerja yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas perdagangan di kawasan tersebut. (alf/an)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : solobalapan.com